“Eh, btw, teman-teman kamu yang sakit banyak gak?”
“Gak ada. Teman-temanku semuanya normal kok.”
“Sama dong. Teman-temanku juga pada gak tahu kalau aku belok.”
Bronis, kamu pasti pernah dengar percakapan kayak di atas atau obrolan yang kurang lebih sama. Obrolan tersebut biasanya terjadi antara sesama GWL. Banyak istilah yang biasa digunakan untuk menyebut kondisi diri yang tidak sama dengan orang-orang heteroseksual. Alih-alih dengan tegas menyebut diri “gay” atau orientasi seksual lainnya, banyak GWL malah menyebut diri mereka “belok, sakit, atau gak normal” terhadap diri mereka sendiri. Nah, apa yang mereka lakukan itu adalah stigma diri.
Stigma adalah tanda atau ciri yang negatif pada diri seseorang. Biasanya stigma ini diberikan oleh masyarakat pada sekelompok orang tertentu. Lalu stigma berkembang menjadi stereotipe, yakni pelabelan terhadap seseorang atau sekelompok orang. Stigma berangkat dari dugaan atau prasangka. Kemudian, dari stigma itu muncullah diskriminasi, yaitu pembedaan perlakuan terhadap orang yang diberi stigma.
Sebagai contoh, sebagian besar orang menduga bahwa homoseksual adalah sebuah kelainan. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik agama, budaya, dan minimnya pengetahuan. Dugaan itu kemudian memunculkan stereotipe di masyarakat bahwa kaum homoseksual adalah orang yang sakit. Hal tersebut lantas menjadi stigma yang diberikan masyarakat terhadap kaum homoseksual sehingga menyebabkan terjadinya diskriminasi bahkan kekerasan.
Sedangkan yang dimaksud dengan stigma diri adalah kondisi seseorang yang meyakini bahwa stigma yang diberikan masyarakat terhadap dirinya adalah sebuah kebenaran. Stigma diri akan merusak rasa percaya diri seseorang karena dia mempercayai apa yang orang pikir tentang dirinya. Dalam contoh kasus yang diberikan di atas, stigma diri adalah kondisi di saat kamu percaya bahwa apa yang orang pikirkan tentang orientasi seksual kamu adalah benar. Begitu orang menyebut homoseksual adalah penyakit, kelainan, dan gak normal, kamu mengaminkannya begitu saja. Maka secara sadar atau tidak, saat ngobrol dengan sesama GWL, kamu akan menyebut diri “belok, sakit, atau gak normal”.
Guys, perlu kamu tahu bahwa stigma diri berakibat negatif terhadap dirimu sendiri. Stigma diri menyebabkan berkurangnya rasa percaya diri dan penerimaan terhadap diri sendiri. Bahkan, kamu tidak dapat “menikmati” hidup karena merasa ada di bawah bayang-bayang pandangan orang lain terhadap kamu, seperti “kamu berpenyakit” atau “kamu berdosa”. Pada tahap yang ekstrem, banyak GWL yang depresi hingga berniat bunuh diri. Maka dari itu, mulai dari sekarang, kamu harus berniat untuk melepaskan dan membuang jauh stigma diri tersebut dengan hal berikut:
1.    Memperluas wawasan mengenai keragaman orientasi seksual, ditinjau dari berbagai sudut pandang, baik medis, psikologis, maupun agama. Jadi, kamu dapat memahami bahwa orientasi seksual bukan merupakan penyakit, kelainan mental, apalagi kutukan. Kamu dapat berdiskusi dengan orang-orang yang memahami keragaman orientasi seksual ini, seperti komunitas LGBT atau pemuka agama progresif yang memiliki pemahaman yang tidak bias terhadap orientasi seksual.
2.    Hindari menggunakan kata-kata “sakit” atau “tidak normal” untuk menyebut diri atau orang lain sesama GWL, apalagi menggunakan istilah-istilah yang biasa digunakan orang lain sebagai bentuk diskriminasi, seperti belok, maho, atau “setengah matang”. Banggalah menyebut diri gay, biseksual, waria, atau orientasi seksual lainnya.
3.    Menanamkan sugesti positif terhadap diri sendiri maupun orang lain sesama GWL agar mereka pun dapat melepaskan stigma diri.

4.    Berusaha menggali potensi diri dan berbuat hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, masyarakat akan melihat “apa yang kamu kerjakan” ketimbang “apa orientasi seksual kamu”. Bahkan, jika masyarakat tahu apa orientasi seksual kamu di balik prestasi yang kamu miliki, semoga hal tersebut bisa jadi upaya untuk perlahan mengikis stigma masyarakat terhadap kaum homoseksual.

(by: Fianisme)

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.