Banyak orang yang masih menganggap homoseksual adalah suatu bentuk dari gangguankejiwaan. Tak jarang, banyak yang sering mengatakan bahwa individu homoseksual adalah individu yang ‘sakit’.
Anggapan itu pula yang banyak membuat orang berusaha untuk ‘menyembuhkan’ individu-individu yang dianggap bermasalah atau ‘sakit’ secara sosial.  berbagai cara dilakukan, mulai dari terapi psikologis, kawin paksa, bahkan sampai dengan intervensi agama seperti exorcist atau rukiyah (dalam hal ini, homoseksual dipandang sebagai hasil perbuatan iblis yang merasuki manusia).
Melihat fenomena ini, yang muncul di kepala adalah apakah memang benar homoseksual adalah suatu penyakit?  Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari mengenai perilaku manusia telah dengan tegas menyatakan bahwa homoseksual sudah bukan lagi dianggap sebagai suatu bentuk dari gangguan psikologis.
Apakah suatu saat hal seperti ini dapat terjadi, dimana pada periode waktu tertentu suatu hal dianggap gangguan dan di waktu berikutnya sudah tidak dianggap lagi sebagai gangguan atau ‘penyakit’? 
Apa batasan yangmembuat sesuatu dianggap sebagai gangguan dan yang mana yang tidak? Berikut akan dijelaskan dengan konteks psikologis, batasan apa saja yang dapat membuat sesuatu dianggap sebagai gangguan atau penyakit ataukah hal biasa (daily hazels).
Dalam disiplin psikologi, suatu hal dapat dianggap sebagai gangguan apabila:  
1. Menimbulkan perasaan stress yang berlebihan secara personal  
2. Menjadi gangguan dalam beberapa area kehidupan  
3. Hal tersebut dianggap melanggar norma sosial  
4. Menimbulkan ketidakmampuan untuk berfungsi secara normal  
Semenjak tahun 1987, isitlah homoseksual sudah tidak pernah lagi dipakai dan dianggap sebagai istilah yang menggambarkan gangguan psikologis seseorang. Pada saat ini, DSM (Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder), buku panduan bagi para psikolog untuk mengklasifikasikan gejala yang dialami seseorang merupakan gangguan psikologis atau bukan, tidak lagi menyebutkan bahwa homoseksual sebagai gangguan, namun apabila orientasi seksual tersebut menimbulkan ketidaknyamanan yang ekstrem terhadap individu, maka hal tersebut dapa digolongkan ke dalam gangguan psikologis yang bernama ‘Sexual disorder not otherwise specified’.   
Informasi diatas kiranya dapat dipahami oleh pembaca, sehingga mulai sekarang kita semua dapat belajar untuk tidak lagi menyebutkan bahwa homoseksual bukanlah sebagai penyakit. 
Mulai dari sekarang kita dapat belajar untuk berhenti mengatakan keadaan orang lain dengan ‘Dia sakit’, ‘Dia perlu disembuhkan’, ‘Dia perlu berobat’. Kita sekarang dapat memahami bahwa selama seseorang nyaman dengan orientasi seksual mereka, hal tersebut tidak akan menimbulkan gangguan psikologis, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai gangguan psikologis atau mental.  
Oleh Kevin 
Sumber: Kring, Jhonson,Neale, David. 2010. Abnormal Psychology. USA:Wiley & Sons, Inc

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.