Banyak diantara kita masih sering terjebak dalam stigma-stigma yang diciptakan masyarakat, yang mengatakan bahwa menjadi gay  adalah suatu penyakit, kelainan, dan bahkan sebuah dosa berat. Stigma-stigma tersebut tak lain terbentuk karena adanya pengaruh dari norma – norma (agama) yang bisa dikatakan sudah tidak relevan lagi di masa kini.   

Namun apakah kita masih tetap akan terus terjebak dalam bayang – bayang stigma tersebut?  Tidak! Kini sudah saatnya bagi kita untuk berusaha melepas stigma-stigma tersebut. Stigma-stigma itu tidak akan bisa lepas jika tidak dimulai dari diri kita sendiri. Jika kita tidak memulainya dengan penerimaan diri yang penuh akan siapa diri kita sebenarnya.   
Memang agama adalah penuntun untuk hidup kita, namun bukan berarti kita mengabaikan aspek- aspek lain dalam hidup kita, termasuk dari sisi kemanusiaan yang menyatakan bahwa “everybody was born free and equal,” semua orang punya hak yang sama, kebebasan yang sama, dan derajat yang sama untuk bisa berkembang dan menikmati pilihan hidupnya masing – masing.  Bukankah Tuhan menciptakan kita saling berbeda diantara yang lain, dengan keunikan, kekurangan, dan kelebihan masing – masing?  Lantas buat apa kita terbebani oleh stigma “dosa”  ketika kita berusaha untuk menjadi diri kita dan mencintai diri kita sendiri??   
Mungkin memang sulit untuk mendapatkan penerimaan seutuhnya dimasyarakat,  dan juga bagi pemuka -pemuka agama/kepercayaan yang masih sering memandang kita sebelah mata, karena kita juga tidak bisa memaksa semua orang untuk menerima diri kita dan menyukai kita, itu cukup melelahkan! 
Yang harus terus kita ingat adalah kalau orang lain tidak bisa menerima diri kita at least kita sendiri mampu menerima diri kita apa adanya. 
Just be who you are, be a nice person, love each other and enjoy your life. Dan di kala dunia melakukan penolakan kepada kita, Satu kalimat yang mungkin bisa menjadi pegangan kita adalah “Kamu tidak sendiri karena Tuhan selalu bersamamu dan tetap akan terus mencintaimu apa adanya!”  🙂
Oleh Franc Colley

2 Response Comments

  • AAA  November 27, 2013 at 6:38 am

    Min, saran aja sih. Kalau kita mau diterima org lain, kita juga harus bisa menerima orang lain juga lho. Kalau kita ngga bisa terima apa yg org lain katakan ttg kita. Kalau memang apa yg mereka katakan tidak sesuai dengan apa yg kita percayai, maka kita sebaiknya mengabaikannya dr pada membenci dan menjelek2an. Kalau malah membenci dan menjelek2an, sama saja kelakuan kita dengan mereka.

    Reply
  • brondongmanis  December 25, 2013 at 1:17 pm

    haloo.. terimakasih sarannya. tapi di artikel ini mimin gak bermaksud untuk menjudge balik orang yang gak menerima kita lho dan tidak ada maksud untuk menjelekan mereka, apa yang mimin tulis hanyalah merupakan kenyataan yang ada di masyarakat bahwa memang sebagian besar pemuka agama dan budayawan yang belum bisa menerima kita bertingkah seperti itu. benar apa yang kamu katakan bahwa lebih baik kita mengabaikannya, bukan justru membenci mereka. Itu juga tertulis kan dibagian penutup, walaupun tidak tersampaikan secara eksplisit. 🙂

    Reply

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.