7 Maret 2014, suatu malam di Bandung, tempat saya bekerja,saya memutuskan untuk coming out kepada keluarga saya melalui sms yang saya kirimkan kepada setiap anggota keluarga yang tinggal di Karawang, terkecuali adik-adik saya yang saya pikir masih belum saatnya menerima kabar ini.
“Saya adalah seorang homoseksual dan pelaku seks aktif dengan sesama lelaki…”
Selang beberapa detik semenjak SMS itu terkirim, handphone saya terus berdering, tak ada niat sedetik pun untuk melirik. Lega, cemas bahkan sedih. Perasaan-perasaan itu mengoyak batin yang tengah terbaring dengan linangan air mata. 
Cemas, dikarenakan saya tidak mengetahui tanggapan pasti dari setiap anggota keluarga yang saya sayangi setelah mereka tahu saya seorang gay. Apakah mereka semua menerima keadaan saya atau tidak. 
Lega, Saya merasa bahwa dengan terbuka dan jujur kepada mereka, saya menjadi diri saya apa adanya, ibaratnya saya telah melepas beban yang cukup berat dan akhirnya bisa bebas. Dan menurut saya, mereka berhak tahu beban seperti apa yang ada pada diri saya. 
Sedih, karena saya mengetahui kenyataan bahwakeadaan saya tidak sama dengan pengharapan keluarga terhadap saya. 
Namun, betapacampur aduknya perasaan itu, saya sadar dan harussiap bahwa ada sebuah konsekuensi yang harus dibayar, ada jawaban yang akan mereka tuntut, ada perihal yang harus dijelaskan.Terlepas dari kekalutan yang terbayang, hati dan pikiran saya sepakat bahwa saya telah melakukan hal terbaik bagi kedua belah pihak, konsekuensi yang harus kami hadapi bersama.
Saat itu juga saya beranikan diri melirik handphone dan mengetik sebuah pesan,
“Tolong tenangkan dulu pikiran kalian, Saya ingin kita ngadepin ini pake kepala dingin…”
Singkat cerita, karena kontrak kerja saya telah habis dan belum sempat diperpanjang, orang tua menjemput saya ke Bandung dan memohon pada saya untuk segera pulang. Ayah menangis seakan-akan saya telah mencuri harga dirinya. Sementara Ibu pucat sekali melihat saya. Mereka memohon agar saya pulang. 
Saya menyerah
Sesampainya di rumah apa yang saya khawatirkan benar tejadi. Mereka menganggap saya “sakit” bahwa saya butuh pertaubatan dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Menurut mereka saya harus di”sembuh”kan.   
Bicara soal pengalaman saya diatas tadi, kita tahu bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk keluarga saya yang relijius menganggap homoseksualitas adalah sebuah penyakit, aib, kaum Nabi Luth yang telah diazab, laknatullah yang wajib dibunuh, apalagi dengan jelas mengakui telah melakukan perzinahan. 
Hati saya sesak menghadapi harga kejujuran yang mahal, serendah itu kah sekarang cara pandang merekakepada saya, sebagai hamba terlaknat. Hati kecil saya menangis, karena hal yang membuat saya dilaknat adalah karena rasa, yaitu cinta, rasa cinta tulus yang saya berikan kepada sesama lelaki.
Tentunya tidak langsung saya terima, saya angkat suara menjelaskan pemahaman saya bahwa:
Pertama, setelah membaca sejarah kaum Luth yang disinyalir kaum Sodom-Gomorah dan menelaahnya dengan membandingkan dengan ayat suci agama yang saya yakini, bahwa yang menjadikan kaum Luth terlaknat dan diazab bukanlah karena “orientasi seks” mereka namun karena “perilaku seksual” mereka yang bejat. Selalu ada kalimat “melampaui batas” dalam ayat suci seakan-akan menekankan bahwa kaum Luth bertindak keterlaluan. Heteroseksual maupun homoseksual dan seluruh umat manusia mempunyai batasan moralitas dan nilai kebajikan. Bagi saya, kaum Luth adalah kaum yang telah melampaui batas kebajikan. Kaum yang telah hilang rasa malu, serampangan berhubungan badan di tempat umum, hobi memperkosa (salah satunya para pendatang termasuk para pendatang pria), menghamili anak-anak mereka sendiri, melakukan hubungan badan dengan anggota keluarga yang dilakukan seenaknya. Kurang lebih karena perilaku seksual mereka yang bejat dan merugikan pihak lain sehingga muncul korban-korban kebiadaban, bukan orientasi seksual mereka. 
Orientasi seksual bisa dimiliki siapapun termasuk oleh kaum Luth, namun perilaku seksual yang digambarkan sehingga mendapat laknat belum tentu dilakukan orang-orang yang memiliki orientasi seksual yang sama dengan kaum tersebut. Jika saya memang dilaknat, mengapa Tuhan menciptakan saya dengan homoseksualitas yang saya yakini melekat pada saya dari semenjak saya kecil? Apakah Tuhan sengaja menciptakan makhluk, lalu melaknatnya? atau Tuhan sengaja menciptakan saya dengan jenis cinta yang berbeda? Yang jelas bagi saya, selama saya tidak melakukan kerugian pada siapapun, dan tidak melakukan perbuatan jahat semacam kaum Luth yang mendobrak nilai kebajikan dan moralitas yang telah tersimpan dalam benak nurani manusia, saya merasa bukan kaum Luth yang dilaknat karena saya menjaga baik-baik nilai-nilai kemanusiaan.
Tak ada yang salah dengan cinta. cinta macam apapun, termasuk cinta sesama jenis, karena itu adalah elemen murni kehidupan yang bisa ditemukan di semua makhluk hidup.  
Kedua, homoseksualitas bukanlah penyakit.WHO, Badan Kesehatan Dunia pada 17 Mei 1990 dengan resmi menyatakan bahwa homoseksualitas bukanlah penyakit ataupun jenis gangguan kejiwaan. Yang merupakan penyakit psikologis adalah homophobia, karena merupakan ketakutan negatif terhadap eksistensi homoseksualitas, atau orang yang didefinisikan sebagai LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Trangender). Dikatakan phobia karena mengandung unsur ketakutan, kebencian, antipati yang irasional, seperti yang kita sering temukan pada phobia-phobia lainnya. 
Ada beberapa hal yang menjadikan seseorang menjadi homophobia, menciptakan stigma pada komunitas LGBT. Disamping dogma agama yang ditafsirkan prematur seperti yang tertulis di atas yang diserap nilai dan moralitas masyarakat kita hingga mengakar. Nilai tersebut menjadi harga mati yang tidak bisa diubah, meskipun dengan jelas nilai yang diadopsi tersebut menjadi instrumen sosial yang berdampak memarginalkan komunitas LGBT, mendiskriminasi mereka, lebih jauh lagi telah berhasil membentuk phobia kebanyakan masyarakat yang bersifat negatif dengan dipupuk kebencian dan arogansi mayoritas. 
Apakah sebuah kebencian yang memarginalkan minoritas merupakan sebuah kebenaran? Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang mampu menerima kaum minoritas di dalamnya dan hidup damai berdampingan. 
Saya menghimbau semua untuk bisa membuka pikiran dan hati demi kedamaian keluarga, tentunya kedamaian di negeri tercinta kita.
Ketiga, homoseksualitas bukanlah penyimpangan seks. Karena bagaimanapun juga, keberagaman orientasi seksual sebenarnya tidak menentang fitrah alam. It’s just sexual preference. Jika dikatakan homoseksualitas ini lebih rendah dari binatang, ada banyak daftar binatang yang melakukan aktivitas homoseksual. Ada begitu banyak penelitian yang membuahkan hasil bahwa banyak binatang melakukan praktik homoseksual. Salah satunya bisa dijumpai di media www.news-medical.net dengan judul1.500 animal species practice homosexuality ( 1.500 spesies hewan melakukan praktik homoseksualitas). Artikel tersebut membuktikan bahwa homoseksual sama sekali tidak melanggar fitrah alam karena sejenis simpanse kerdil, singa, lumba lumba, paus melakukan praktik homoseksual.
“Lions are also homosexual. Male lions often band together with their brothers to lead the pride. To ensure loyalty, they strengthen the bonds by often having sex with each other. Homosexuality is also quite common among dolphins and killer whales.”
Jika masih ada anggapan bahwa perilaku ini lebih rendah dari binatang, ada lebih banyak binatang yang berpraktik heteroseksual. Melanggar hukum alam jelas terbantahkan. 
Lebih lagi seharusnya dunia berterimakasih pada para homoseksual yang secara alami tercipta sebagai pengontrol laju populasi manusia yang terus bertambah dan semakin menjadi-jadi. Komunitas LGBT ada sebagai penyeimbang ekosistem bumi yang semakin “sesak.”  Sebenarnya dengan membuka diri, saya membuka dialog bersama keluarga saya, mencoba untuk saling memahami pendapat masing-masing. Dengan membuka diri saya berharap toleransi dari mereka. Membentuk sebuah kerjasama yang baik dan harmonis. Namun yang terjadi adalah argumen saya dikatakan sebagai alasan pelarian dari kebenaran hakiki.
Entah saya yang keras kepala mempertahankan argumen atau mereka yang justru sebenarnya keras kepala. Akhirnya kami membuat sebuah perjanjian dimana saya akan mengikuti perintah mereka sampai saya memiliki seorang perempuan yang mencintai saya. Tak bisa saya tolak karena mereka menangis. Ada rasa sakit “yang lain” dalam hati yang tidak bisa saya tepis dengan egois ketika melihat ayah yang gagah membungkuk terisak, ibu yang tulus menyayangi memandang dengan untaian air mata. Akhirnya saya memutuskan berkorban dengan syarat jika saya menemukan perempuan yang mencintai saya setelah tahu saya seorang homoseksual dan mau membina kehidupan bersama saya, atau jika saya menemukan seorang pria, saya harus yakin bahwa saya mencintainya dengan tulus. Yang jelas hingga saat ini saya sedang bersusah payah menjadi anak yang diinginkan orang tua dengan menjadi lebih religius. Hal ini saya akui tak menyiksa saya, karena saya bisa saja hidup bersama lelaki atau perempuan dengan relijius tanpa harus menutupi bahwa saya seorang homoseksual. 
Identitas diri itu murni. Namun jauh di lubuk hati saya, selalu mendambakan seorang pangeran yang saya idamkan datang dan membebaskan saya dari belenggu ini, bukan putri atau bidadari.
Saya adalah sebuah tanaman hias yang tumbuh di halaman, keluarga saya adalah pemilik rumah. Sebaik apapun saya tumbuh, menjulurkan ranting, membentuk daun-daun baru. Mereka akan selalu memangkas saya dengan gunting taman agar tetap berbentuk seperti apa yang mereka inginkan.
Sumber:www.news-medical.net
Oleh: Apriansyah Yudha*
*Pemenang tulisan terbaik LGBT Writing Contest

19 Response Comments

  • Anonymous  July 12, 2014 at 11:08 am

    Cerita yang mengandung makna tersirat.

    Reply
  • Maha  July 23, 2014 at 12:53 pm

    Homoseksual dan homoseksualitas beda bukan? Sebenernya msh bingung dlm aplikasinya sih perbedaannya,haha
    Lumayan berani berargumen ttg kaum nabi luth, mengkoreksi tafsir ayat. Tapi saya jg melakukannya kok setelah Come out , hehe dan jd pintu kajian tafsir yg lbh luas dlm masalah lain. Kebetulan keluarga cukup moderat.

    Reply
  • Anonymous  August 17, 2014 at 1:31 pm

    Dua jempol buat tulisan-nya, sy tidak paham tentang tafsir dalil kitab suci, tp apa yang disampaikan masuk akal, jika dipandang dari sisi pembenaran orientasi PLU. Saya sangat sependapat, yang harus di luruskan dan di benahi dari kaum PLU agar "diterima (sampai dunia kiamat-di NKRI kayaknya mustahal bin mustahil" di masyarakat adalah pembenahan perilaku sex itu sendiri. simalakama memang, perilaku yang melampaui batas itu adalah bentuk pelampiasan diri dari gelora jiwa muda. mereka perlu diarahkan untuk bertanggung jawab pada diri mereka sendiri. mereka harus berfikir dewasa untuk menjadi seorang PLU. jangan pernah memandang cinta mereka suatu kejanggalan, namun adalah kewajaran yang akhirnya mereka menemukan cinta sejati, stick to one heart.

    Reply
  • Anonymous  November 29, 2014 at 3:59 pm

    Tulisannya sungguh inspiratif,menggugah semangat untuk jujur dan terbuka. Ingin sekali melakukan hal seperti itu,terbuka dan jujur kepada keluarga,tapi sayang karena terikat masalah adat dan agama jadinya hal seperti itu terpaksa harus ditahan demi nama baik keluarga.
    Sungguh sayang sekali.
    Tapi two thumbs buat tulisannya,salam juga dari teman di karawang.

    Reply
  • Anonymous  February 2, 2015 at 10:48 pm

    pembenaran, pembenaran, pembenaran, pembenaran, pembenaran, pembenaran, pembenaran, pembenaran, akan yg salah

    Reply
  • diwa  February 10, 2015 at 7:24 pm

    Tidak ada yg salah dengan homo sexsual atau kaum lesbi tetapi tuhan menciptakanumatnya berpasang2an, alangkah lebih baik kita memperbaiki diri kita untuk bekal kita di akhirat nanti …. saya seorang mantan lesbian dan saya berusaha menjadi yg terbaik buat bekal hidup saya alhamdulilah saya berhasil untuk menjadi wanita yg mencintai pria dan saya berharap semua orang dapat menjadi yg terbaik untuk kihidupanya karna saya yakin tuhan memberikan ujian buat kita dengan satu kekurangankita tp allah akan sangat menolobg jika kita mau nerubahnya karna allah slalu ada untuk umat nya yg ingin menjadi baik

    Reply
  • Aswar Anas  March 29, 2015 at 3:12 am

    Saya sangat setuju karena ini sangat membantu bagi yang menjalani.thank you very much for information.

    Reply
  • Stephanoez ryo  September 18, 2015 at 7:05 am

    Jangan kamu(laki-laki),bersetubuh dengan laki-laki seperti kamu bersetubuh dengan perempuan….( ayat kitab suci).

    Reply
  • Onan Sitahuru  November 3, 2015 at 4:21 am

    Apabila kamu tidur dengan laki laki layaknya kamu perlakukan seperti wanita maka itu suatu kekejian.

    Reply
  • Anonymous  December 8, 2015 at 1:24 pm

    Saya masih bingung dengan orang orang yang terus membenarkan diri dari suatu kesalahan. Mereka bilang mereka sadar kalau terlahir berbeda, tapi mengapa mereka tidak pernah mencoba membenarkan diri mereka untuk merujuk kepada sesuatu yang sudah dikodratkan. Memang tuhan menciptakan kita untuk saling menyayangi bukan untuk menyalahkan koran dengan berdasarkan rasa cinta sesama makhluk.

    Reply
  • Linggar Eisenring  February 1, 2016 at 6:03 pm

    Benarkah homo itu faktor genetika??
    Karena faktanya tidak sedikit orang yang homo bisa berubah menjadi laki-laki normal…
    Bahkan teman kantor saya dahulu suaminya adalah seorang homo, lalu setelah itu, karena keinginan yang kuat akhirnya dia normal kembali dan buktinya skrg dia punya anak dari teman saya…
    Jadi sebenarnya faktor keinginan kita saja…
    Ente nya ada niat mau berubah atau nggak….
    Klo saya analogikan itu seperti kecanduan rokok,
    Semua perokok pasti mengatakan sulit untuk berhenti…
    Tapi sebenarnya jika keinginannya kuat maka dia pasti bisa berhenti….

    Reply
  • Esta Yunita  February 10, 2016 at 3:01 pm

    Bukannya tidak menghargai, tetapi tetap saja Homo itu hal yang memang di larang clearly.

    Selain dilarang oleh Agama, hal ini juga di larang dalam hal kesehatan. Walaupun pada tanggal 26 Juni 2015 telah di resmikanya hari dimana Negera Adidaya, Amerika Serikat yang memperbolehkan/melegalkan warganya untuk berhubungan dengan sesama jenis. Tetapi, bagi saya hal itu merupakan hal yang sangat fatal.
    Mengapa? Itu sama saja mengurangi pertumbuhan/perkembangbiakan jumlah keturunan di bumi ini.
    Saya sangat bersyukur terlahir sebagai orang Islam dengan keluarga yang cukup religious dan mengerti akan hal-hal yang dilarang agama, dan karna hal itu membuat saya berpikir "Kenapa ya ada orang yang memiliki sifat aneh seperti menyukai sesama jenis dan bahkan menjadikanya kekasih?"
    Sebelum menjawabnya, saya tahu perbedaan itu indah. Tetapi dari perbedaan tersebut seharus nya kita harus menarik secarik kesimpulan kecil dari hal tersebut. First of all berhubungan sesama jenis itu memang di larang oleh Allah & Rasul, dan hal itu sudah di tulis dari kitab segala kitab yaitu Al-Qur'an. sebagai orang yang di beri akal untuk berpikir, sebaiknya gunakan akal tersebut untuk mencari dan menela'ah hal-hal tersebut.

    Ya, menurut saya pribadi. Intinya dalam dunia ini Allah menciptakan hal hal berbda yang membuat makhluk makhluk nya berpikir dan mencerna akan hal tersebut. Dan untuk yang beranggapan Homo itu Benar / Salah, ya karena Allah sendiri sudah menetapkan takdir-takdir para makhluknya untuk berada di jalan yang Benar / Salah, Surga / Neraka dan sebagainya, karena pada dasarnya Allah menciptakan segala sesuatunya secara berpasang-pasangan. Maka dari itu beruntunglah, makhluk-makhluk Allah yang masih di berikan hidayah untuk berpikir jernih & mencerna hal yang memang sudah jelas dilarang & telah di tulis di Al-Qur'an sendiri.
    Dan yang masih belum berpikir jernih akan hal ini, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepadamu, dan aku tahu hal ini merupakan sebuah cobaan untuk anda, apakah anda mau bertahan/meninggalkannya.

    🙂

    Reply
  • here is me  March 4, 2016 at 8:18 pm

    Benar apa dah sembuh teman ente itu, nanti cuma kedok aja macam saipul jamil, tampak depan suka ma cewek tapi aslinya suka juga ma lakik. Nih gua kasih tau ma ente ya. Untuk membuktikan sesorg itu homoseksual atau heteroseksual perlu adanya tes psikologis yg dpt membuktikan oerietasi seksual sesorg, jadi perlu adanya pembuktian secara tes psikologis, kalo cuma sebatas asumsi atau omongan orang itu gak bisa dijamin, org bisa bohong, tapi kita mana tahu isi hati org, siapa tau dia emng dah berkeluarga secara heteroseksual tapi di dalam lubuk hati dia masih menyimpan rasa suka terhadap sesama jenis. Kalo masalah bisa buat anak atau gak, semua orang homoseksual bisa buat anak kok, asal gak mandul aja.terus persoalan homoseksual itu layaknya candu apa hubunganya, homoseksual rasa yang keluar dari dalam hati bukan perbuat, kecuali candu sex, itu baru perbuatan,candu sex itu bisa terjadi sama siapa aja baik itu heteroseksual atau homoseksual banyak yng candy sex, jadi balik ke pribadi masing".

    Reply
  • here is me  March 4, 2016 at 8:32 pm

    Bukan gak mau buat berubah pak,anda cuma bisa ongomong gini,proses dalam yakin seorg homoseksual itu panjang belasan tahun,ada yg namanya homosexual in denial dmn seorg gay/lesbi membenci dirinya karena berbeda ditahap ini bnyk yg bunuh diri karena tidak menerima keadaanya,ditahap ini mereka juga coba untuk perbaiki diri agar sama dengan kebanyakan orang" namun kenyataantan gak ada hasilnya mereka gak ada perasaan suka terhadap lawan jenis. Gini aja saya ibaratkan biar gampang bapak memahaminya, bapak seorang hetroseksual yang menyukai lawan jenis bapak (wanita), terus saya suruh bapak buat mencintai sesama jenis bapak (pria), susah gak?, bisa gak ?. Kalo bapak gak bisa karena gak ada perasaan suka maka begitulah beratnya seorang homoseksual dipaksa menyukai lawan jenisnya.

    Reply
  • here is me  March 4, 2016 at 9:31 pm

    Saya akan menjawab asumsi ibu, satu per satu.
    Pertama, homoseksual tidak dilarang agama, hanya agama samawi seperti islama, dan kristen yang melarang homoseksual, selain agama itu seperti hindu, budha, dan lain" tidak ada larangan homoseksual, jadi tidak semua agama yang melarang homoseksual, (jelas).
    Kedua,homoseksual itu tidak dilarang dalam kesehatan namun perilaku seksual seperti sodomi kurang dianjurkan didalam kesehatan, namun perly diingat tidak semua homoseksual itu melakukan perilaku seksual sodomi,dan tujuan dari mereka bersama bukanlah perilaku seksual namun adalah cinta mereka. Anda bisa saja bersetubuh dengan sesorg walaupun anda tidak mencintainya, namun anda bisa mencintai sesorg tanpa adanya hubungan intim.
    Ketiga, anda seorg yg religius pasti tahu tentang Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada maksud dan tujuannya, contoh kecil, nyamuk yg kita kira gak ada gunannya malah penebar penyakit pada kenyataan Tuhan ciptakan mereka agar adanta obat nyamuk yang bisa memperikan nilai ekonomi bagi penjual obat nyamuk. Nah.. begitu juga Tuhan ciptakan Homoseksual ada maksud n tujuannya yaitu u/ menjadi penyeimbang ekosistem yg ada di muka bumi ini, tentu ibu pasti belajar tentang ekosistem saat masa SMA ibu dimana fungsi predator tidak bolehlah hilang apabila punah maka akan menimbulkan kerusakan ekosistem seperti muculnya tikus hama yang tidak terkendali kerena habisnya predator, ibu tahu kan?, jumlah manusia yang menyesaki bumi ini udah 8 miliar di tahun 2016 ini, gimana kalo 50 tahun atau 100 tahun kedepan ?.
    Keempat, ibu melihat dari sisi agama ibu,maka tidak akan ada benarnya atau jalan keluarnya, gini saja saya beri perumpamaan , kalo ibu sakit DBD ibu cari dokter apa cari ustad ?. Ibu baca referensi kesehatan atau baca Al-Quran ?.kalo ibu cari ustad atau baca kitab suci saja tanpa ada penanganan medis mungkin ibu dalam keadaan yang semakin buruk, maka tidak semua hal itu perlu dihubungkan dengan keagamaan,contoh lain Galileo yang pertama kali menyebutkan bahwa bumi ini bulat,dipancung mati olehkarena pernyataan dia telah berentangan oleh agamanya dan melawan apa yang telah dijelaskan di agamanya, dan pada akhirnya sekarang secara sains bumi ini bulat, Galeleo benar, namun dia dihukum mati oleh karena kearoganan agmanya. Contoh lain saya berikan mungkin berapa dekade lalu kita dikenalkan namanya KB keluarga berencana,saat itu banyak sekali kecaman dari organisasi keagamaan termasuk Islam dimana menurut mereka KB adalah salah satu bentuk dari perlawan kehendak dari sang pencipta, dan pembatasaan jumlah anak telah melanggar norma" agama, dan pada akhirnya masyarakat yang mengerti ilmu pengetahuan setuju dengan adanya KB untuk mengurangi populasi dunia ini yang semakin membengkak.intinya sesuatu yang beda itu pasti akan ditentang, tapi kita lihat saja nanti bisa jadi 50 tahun atau 100 tahun kedepan kita gak tahu gimana dunia ini,terutama Indonesia ini penuh dinamika,dan saat ini bukan hanya Amerika yang telah melegalkan pernikahan homoseksual namun banyak negara lain di eropa yang telah melegalkan homoseksual. menurut saya agama ialah hubungan saya dan Tuhan dan menyebarkan kebajikan sesama serta menyembah Tuhan adalah cara mengagungkan Tuhan.nah, saya cuma ingin tambahkan bahwa bukan hanya WHO yang telah menyatakan bahwa homoseksual itu normal, namun departemen kesehatan RI dibuku PPDGJ silakan ibu lihat buku itu buku panduan lengkap psikiatris, dan ciptaan orang indonesia, di buku itu sejak tahun 1993 Indonesia telah mengeluarkan homoseksual dari penyakit.
    Kelima, ini terserah ibu saya hanya menanggapi, boleh dong, ya kan ?.mau setuju atau gak itu urusan ibu, saya hanya beri tanggapan.

    Reply
  • Anonymous  March 6, 2016 at 11:09 am

    Homoseksual itu penyakit jiwa,dan menular,kok ya hewan di sama samain sama manusia.
    Pembenaran yang salah
    Dbd pake ustadz,ya salah dong,apple to apple,dbd masalahnya itu penyakit tub
    uh,bukan jiwa
    Pertumbuhan masyrakat membludak gara gara heterosexual? Halloo..memangnya manusia ngga ada yang mati?
    Pake logika tapi ngawur semua
    Cuman pembenaran
    Be a normal,human is hetrosexual.

    Reply
  • here is me  March 7, 2016 at 8:36 am

    This comment has been removed by the author.

    Reply
  • here is me  March 7, 2016 at 8:43 am

    Hahaha, helooowww ilmu ustad itu ilmu theologi, ilmu keagamaan. Tapi kita bahasa ilmu kefokteran dan fakta ilmiah kali ini ya WHO : world health organization udh menyatakan homoseksual setara dengan heteroseksual, dan homoseksual itu normal, bahkan departemen kesehatan RI sejak tahun 1993 telah menyatakan Homoseksual normal bukan untuk diobatin, baca buku kedokteran lagi sih lo. Cari tu di perpustakaan kalo lu gak mampu beli bukunya pinjam namanya PPDGJ buku panduan kedokteran cari di perpustakaan universitas biar ilmu makin tinggi dan gak sebatas agama aja.
    Kalau penyakit badan emng org homoseksual itu sakit tubuh yg kekmna ?. Tubuh mereka suka kejang" ya macam org epilepsi, atau suka demam badan mereka, atau mereka pada kolesterol tinggi ?,buktinya banyak kom org lgbt bisa sukses, sehat mereka wkwkwk gak mesti gua sebutin kan dsini lu bisa search aja deh di google lgbt yg sukses" dan cerdas", banyak belajar lagi deh lu. Narrow minded people, pikiran lu pendek wawasan lu sebatas kajian agama aja sih.
    Gini aja kalo lu sakit diare lu temui ustad ya mintak kesembuhan dari ilmu ustad yg berdasarkan theologi ?, ya mesti jumpai dokterlah sesuai bidangnya , kesehatan ?, lu sih pendek akal cuma sebatas agama pengetahuan lu.
    Pas lu sakit temui aja deh ustad minta kesembuhan ma si ustad aja lu.

    Reply

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.