Siapa bilang tahun 80-an dunia perfilman di Indonesia tidak ada satu pun pembuat film yang memproduksi karya sinema dengan mengusung tema LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Salah satu bukti dari pernyataan tersebut adalah dengan lahirnya Masterpiece karya sutradara Wahyu Sihombing yang berjudul Istana Kecantikan (1988).

Sebuah film yang mengangkat tema LGBT, khususnya cerita kehidupan tentang gay yang dikisahkan mempunyai konflik dalam kehidupannya. Masalah-masalah yang biasa terjadi di komunitas gay.

Film diawali dengan gambaran tentang bagaimana kehidupan gay yang diidentikkan dengan kehidupan malam di tahun 1988. Mungkin sobat bronis sebagian masih belum lahir di tahun tersebut. Bener banget, di tahun itu, kehidupan komunitas gay masih bisa dibilang tidak seterbuka sekarang. Kita hanya bisa menemukan mereka di tempat-tempat nongkrong khusus di bar atau cafe tentunya pada malam hari.

Sobat bronis akan dibawa untuk berkenalkan dengan karakter utama dalam film ini. Seorang gay muda sukses yang untuk dijamannya bisa dibilang “mapan”. Namanya Niko Surya (Mathias Muchus). Pergaulan malam yang menjadi rutinitas dia disela-sela kesibukannya membuat kedua orang tuanya untuk segera memaksanya menikah. Agar tak lagi begadang pulang subuh-subuh. BAGAIMANAPUN JUGA NIKO HARUS BERUMAH TANGGA. muncul lah awal dari segala masalah.

Desakan orang tua yang memaksa agar Niko lekas-lekas menikah dan punya anak, membuat dirinya mulai galau dalam setiap kali hendak melakukan sesuatu. Beruntung Niko adalah pribadi yang ramah dan perhatian kepada semua orang termasuk teman-teman kantornya, sehingga reputasi dia di tempat kerjanya masih mendapatkan tempat yang bagus. Sebagian karyawati berlomba-lomba saling bersaing untuk mendapatkan hati Niko. Namun kondisi itu ditertawakan oleh rekan kerjanya Robby, yang kebetulan memiliki orientasi seksual yang sama dengan Niko.

Berbeda dengan Robby, Sumitro justru memanfaatkan “kebaikan” Niko untuk bisa menolongnya terlepas dari masalah yang membelenggu. Playboy yang sudah beristri ini terlibat hubungan intim dengan seorang model perempuan hingga hamil. Dan Sumitro berkeberatan untuk menikahi Siska (Nurul Arifin) nama model perempuan itu, dengan alasan sudah punya istri di rumah. Dan satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkannya adalah dengan meminta bantuan Niko. “Memaksa” Niko menikahi Siska.

Pertanyaannya, akan kah Niko bersedia menikahi Siska ?

Sobat bronis, sejenak kita berandai-andai, semisal kita hidup di tahun 80-an. Dimana kecanggihan teknologi belum diwakili oleh gadget canggih (baca: telpon selular). Apa yang bisa sobat bronis lakukan apabila akan ketemuan dengan seseorang yang sehati ? Buka aplikasi grindr ? jack’d ? no no no….. Jaman dulu belum ada Wi-Fi. Internet saja belum ada. Menurut sesepuh gay di Jakarta, alternatif ketemuan selain nongkrong di cafe dan bar, diantara mereka ada yang menggunakan media SAHABAT PENA yang biasa ditemui di majalah-majalah atau tabloid. Dengan mengirim surat yang tujuan awalnya hanya sekedar pertemanan dan dengan sedikit keberuntungan, kalau ternyata sehati otomatis gayung bersambut. Namun kalau ternyata sahabat pena-nya adalah seorang Heteroseksual, otomatis hanya menjadi sahabat semata. tidak lebih. Bisa dibayangkan ya, betapa beruntungnya kita sobat bronis yang hidup di jaman serba instan. Tinggal nongkrong online, majang foto yang sekiranya menarik, tanpa nunggu berminggu-minggu berbulan-bulan, semenit sudah ada yang menyapa. Sekali lagi betapa beruntungnya kita.

Kembali ke film, ketika merunut cerita yang ditulis oleh penulis skenario, Drs. Asrul Sani, betapa kita dibuat shock, rupa-rupanya, pemikiran dan pemahaman orang-orang di jaman itu terkait keberadaan gay sangat begitu berbeda dengan saat ini. Kita akan menjumpai kondisi penerimaan ke-gay-an seseorang atas seseorang. Walau tidak terlalu eksplisit.

Memang tidak bisa dipungkiri, faktor keluarga adalah faktor utama yang biasa dihadapi para gay di manapun, tidak hanya di Indonesia. Tekanan untuk segera menikah dengan lawan jenis, dengan mengatas-namakan kehormatan keluarga. Bila menolak, dianggap pendosa. Dan jika menerima, perempuan yang akhirnya menjadi korban.

Itu semua tidak lepas dari norma-norma yang berlaku waktu dulu (hingga kini). Konsep hanya ada perempuan dan laki-laki, tidak ada gender ketiga dan seterusnya. Bahwa gay masih dibilang kelainan seks. Berdosa, dan yang sempat muncul di tulisan akhir film, bahwa gay adalah tindakan melawan kodrat.

Namun jangan salah sobat bronis, banyak sekali dialog-dialog yang masih relevan yang masih sering kita jumpai dimanapun kita berada.

Pernikahan akhirnya berfungsi sebagai kedok semata. Terikat tali perkawinan suci, namun masih ada tali temali yang masih menghubungkan Niko dengan zona gay-nya. Lantas kalau sudah demikian, apa sebenarnya yang dicari dalam hidup ini ? Kebahagiaan diri sendiri, atau membahagiakan orang lain. Kita boleh dibuat bingung. Namun hanya ada satu kesimpulan, hidup untuk cinta.

Sobat bronis, pada dasarnya, seksualitas itu cair. Namun bukan berarti karena cair, kondisi seksualitas seseorang bisa dengan dipaksakan berubah-ubah. Yang dimaksud dengan cair, adalah bisa berubah kapan pun tanpa ada paksaan. Tanpa ada tekanan, tanpa ada intimidasi dari pihak lain. Karena bagaimanapun juga seksualitas adalah milik personal.

Dari film ini, bisa diambil hikmahnya, bahwa sebelum sobat bronis memutuskan untuk melakukan sesuatu, pertimbangkan baik-baik dengan apa yang kita pilih. Penyesalan tak pernah datang on time, selalu terlambat. Dan kehidupan gay jaman dulu ternyata gak jauh beda dengan sekarang, yang membedakan hanya lifestyle-nya. Beruntung sekali bisa masuk ke dalam Istana Kecantikan.

Bagi sobat bronis yang demen banget nonton, apalagi film-film dengan tema LGBT, Human Rights dan HIV/AIDS, bisa langsung check di www.qmunity-id.org atau follow twitter @QFilmFestival dan fanpage facebook Q! Film Festival. #100persenmanusia

Oleh @DapurImami

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.