Hidup di negara dengan tingkat kebencian terhadap kelompok LGBT yang tinggi terkadang membuat setiap kita, baik dari para Gay, Lesbian, Biseks dan Transgender harus dituntut untuk menciptakan suasana senormal mungkin di mata orang-orang awam. Terkadang pula orang menjadi orang lain (introvert) hanya karena hal ini.

Kita sama-sama dilahirkan dan dibesarkan di negeri yang sama, sama-sama menghirup napas dengan gratis yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, sama-sama diberikan panca indera untuk merasa, meraba, melihat, mendengarkan. Namun, mengapa beberapa diantara mereka setelah mengetahui kita “berbeda,” yang tidak sama seperti mereka, pandangan justru berubah dan seolah-olah sudah terdikte setiap-tiap orang yang menjadi bagian dari komunitas homoseksual itu harus dipojokkan dan bahkan dianggap “kelainan” seperti yang selama ini mereka yakini.

Sobat bronis mungkin saja tidak asing dengan kata “Bully.” Ada pengalaman pribadi dari penulis yang sedari kecil sudah menikmati cercaan karena sejak kecil fisik yang lebih terlihat feminin dan lebih kecil dibandingkan teman-teman lelaki yang lain. Mereka hanya bisa mencela dan yang bisa dilakukan penulis saat itu hanya menangis. Sejak kecil penulis sudah menyadari seperti apakah dirinya, menguatkan diri, berupaya dan mencoba untuk bermasyarakat secara wajar. Setidaknya masyarakat awam yang selalu menghujat akan (sedikit) diam jika kita memiliki beberapa prestasi yang bisa dibanggakan. Mengejar apapun yang manjadi cita-cita sobat bronis.

Buatlah mata orang-orang di sekeliling kita terbuka, perdengarkan telinga mereka atas apa yang bisa kita raih. Buat hati mereka tersentuh bahwa kita sebagai bagian dari komunitas LGBT pun bisa berhasil dan menjadi inspirasi bagi mereka.

Selama ini hak-hak LGBT di Indonesia sama sekali tidak pernah ada yang berani mengangkat ke legislatif. Beberapa tahun belakangan perjuangan komunitas pelangi ini mulai terdengar walaupun jelas beberapa ormas-ormas besar keagamaan di Indonesia menentang keras. Di negara lain, isu pernikahan sejenis boleh jadi banyak diangkat oleh parlemen disana.

Sobat bronis, kita sama-sama berjuang untuk itu. Untuk sebuah hak persamaan. Hak Kesetaraan. Bukan muluk-muluk sampai sejauh pernikahan sejenis. Penerimaan kaum heteroseksual terhadap keberadaan kita ,kaum LGBT lebih memanusiawikan daripada berjuang sampai pernikahan sejenis akan tetapi masih banyak kontra. Oleh karena itu, untuk menuntut persamaan hak-hak tersebut, apa yang bisa kita beri, apa yang bisa kita capai, itulah yang bisa membuat kaum heteroseksual memandang kita.

Sejatinya kita sama, mata mereka juga bisa melihat apa yang bisa kita lihat. Lantas mengapa kita harus dilihat hanya dengan sebelah mata ? Buktikan sobat bronis, bahwa kita bisa !

Oleh Jude Manzano

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.