Teruntuk kalian, manusia yang mengaku normal atau bagiku setengah normal. Yang tak pernah menerima perbedaan hanya karena melihat kami berbeda.  

Ada Aliya, tinggi langsing dengan baju seksi yang dikenakan mencolok mata orang memandang, rambut palsu panjang terurai kusut, dan perhiasan imitasi blink-blink menyilaukan. Tangan kanannya menenteng sebuah tas wanita dewasa, sedang tangan kirinya sibuk mencari sesuatu dalam tas tersebut. Hingga akhirnya dia meraih sebuah kotak bedak dan kaca. Dibukanya kaca rias itu, mendempul pipi hingga terlihat berbeda dengan kulit aslinya. Selesai dengan compact powder, Aliya mengambil gincu merah, mewarnai kedua belah bibirnya. Ia ambil lagi kaca rias yang dipunyainya, jakunnya naik turun sambil bergembira. Dalam hati dia merasa, “aku terlihat cantik”. Aliya tak sadar, siang itu dalam gerbong kereta yang ditumpanginya beberapa pasang mata memandang. Sekilas ada mata-mata sinis, beberapa lagi memilih diam acuh, dan yang lainnya memilih berkata-kata dalam hati.    

Rex terlahir dengan nama Renita. Tapi, dia tak pernah memakai rok pendek maupun sepatu jinggel perempuan. Dia lebih suka memakai kaos oblong dan topi, bergaul dengan anak-anak lelaki dari kampus seni swasta yang menyukai fotografi, dan juga balap motor. Rex tak dekat dengan ayah, satu-satunya orang tua yang masih hidup. Beliau selalu memaksanya berdandan normal seperti gadis pada umumnya. Rex jarang sekali pulang ke rumah karena alasan itu. Terlebih keluarga besarnya menganggap Rex seperti anggota keluarga teraneh yang pernah ada. Terutama jika ada suatu pesta keluarga, sebutlah pesta pernikahan. Rex lebih suka memakai oblong kasual, ataupun mengenakan celana jeans lelaki dengan kemeja dan sepatu boots. Dalam hati,Rex hanya membayangkan apakah jika ibunya masih hidup dia juga tidak boleh bergaya seperti lelaki?  

Adapula Robby, lelaki dambaan sejuta perempuan yang pertama kali melihat parasnya. Lengan-lengan seperti terpahat kuat, melambangkan keperkasaan lelaki sejati. Hanya dengan berjalan sejauh beberapa meter saja, mata-mata lawan jenis terpana oleh kebagusan rupa. Sampai akhirnya ia tiba di suatu kedai kopi klasik. Di sana seorang lelaki yang kurang lebih sepantaran menunggunya. Raut muka orang yang ditemui Robby terlihat bahagia. Dia memeluk erat Robby, menyaratkan kerinduan seperti lama tak pernah berjumpa. Robby membalas pelukan erat tersebut hingga mata-mata perempuan yang mengawasi Robby sedari tadi terbelalak dan seperti tak bisa menerima pandangan tersebut. “Sial, mati saja mereka berdua!”  

Adakah diantara kita yang membaca tulisan ini, pernah sekali dua kali atau bahkan lebih menjumpai peristiwa-peristiwa itu? Apa reaksi kalian? Mengutukkah? Menganggap ini sudah kebablasan dan diluar batas? Apakah hanya kalian yang seperti manusia normal yang menganggap dirinya sehat dan melihat fenomena-fenomena tersebut seperti sampah ditepian jalan? Adakah kalian lebih sempurna dan berhak mengadili seperti kami tak punya hak sama sekali. Hak yang melekat sejak kami lahir, untuk bebas menentukan jalan kami sendiri. Mungkin tulisan ini tak akan pernah mengubah pandangan, seperti Hitler yang selalu menganggap Ras Arya lebih tinggi kastanya dibanding semua ras di muka bumi. Namun, setidaknya hanya dengan tulisan ini satu kalimat yang terucap,
“Kami bahagia dalam ketidaksempurnaan”.  

Mata itu sudah bertahun-tahun membelenggu kami. Tak perlu kalian bersuara pun kami tahu apa arti dibaliknya. Sesungguhnya manusia itu sendiri yang menciptakan kotak-kotak dan aku yakin tidak ada satupun orang yang paling sempurna yang berhak membatasi kebebasan orang lain.  

APAKAH KEHENDAK BEBAS BENAR-BENAR ADA?
APAKAH MANUSIA BEBAS BENAR-BENAR ADA ?
 -Pasung Jiwa (Okky Madasari)

Oleh: Jude Manzano

One Response Comment

  • Anonymous  May 1, 2015 at 7:46 am

    Be yourself aja, do your best.
    Kita hidup bukan dari pandangan orang lain, tapi dari diri kita sendiri.
    Cheers! 😉

    Reply

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.