Cinta itu universal. Dia bisa jatuh pada siapa saja, untuk siapa saja. Karena cintalah dunia menjadi penuh warna. Warna yang menggambarkan pahit manis kehidupan. Inilah yang dikemas oleh Hendri Yulius dan 5 penulis lainnya dalam buku berjudul “Keep Calm And Be Fabulous”. Buku yang terdiri dari 6 cerita ini menguak kisah-kisah tentang hal yang sederhana, yaitu cinta, dalam tema LGBTIQ (Love, Gifted, Bravery, Trust, Imagination, Quest).

Setiap kisah memiliki ciri khasnya masing-masing. Gaya bahasa pop literature dalam buku ini membuatnya mudah dipahami. Setting-nya menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat ibukota masa kini. Namun, ciri khas dari setiap penulisnya muncul dari alur cerita pada masing-masing kisah tersebut. Hebatnya, seluruh kisah yang ada di buku ini membuat kita semakin penasaran untuk membaca sampai ke ending-nya.

Kondisi sosial tentang kehidupan LGBTIQ di Indonesia tergambar dengan baik dalam buku ini. Dimana LGBTIQ masih harus mendobrak heteronormativitas yang berakar dalam masyarakat. Di dalamya ada unsur penerimaan diri, keberanian, kebijaksanaan, kepercayaan, pencarian jatidiri, dan cinta. Karena hidup adalah pilihan. Buku ini menggambarkan bahwa menjadi LGBTIQ bukanlah pilihan. Yang menjadi pilihan adalah tentang mengikuti kata hati atau tidak.

Pada cerita H2H (Heart to Heart), Hendri dan Kindy Marina menceritakan tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada sahabatnya yang seorang gay. Cerita ini dikemas dalam bentuk e-mail antara kedua tokoh. Hal yang berbeda muncul pada cerita Ezra, Dalam Fragmen. Caca Kartiwa menggambarkan pergolakan batin yang ada dalam diri Ezra, tentang cintanya kepada Arya dan segala pertetangan yang muncul karenanya. Dalam kisah Labirin, El Ayn Morve menceritakan tentang keberanian Hanny untuk mengikuti kata hatinya dengan memilih dosen pembimbing cantik yang dicintainya. Amahl S. Azwar menggambarkan kisah pencarian cinta seorang gay escort ibukota dalam Husbro. Ular Tangga dari Bintang Pradipta menceritakan tentang bagaimana pedihnya kehilangan seseorang yang kita cintai, seseorang yang mengisi hari-hari kita. Buku ini ditutup dengan kisah Boy Meets Girl, Boy Meets Boy, Girl Meets Girl, and… U Meets I oleh Hendri dan Kindy. Kisah ini menceritakan tentang penerimaan seseorang akan identitas gendernya yang dikemas dalam percakapan sebuah aplikasi chat.

Buku ini mengemas tentang cinta yang sederhana dan apa adanya. Walau harus didera berbagai rintangan. Dalam buku ini, tersirat pesan bahwa cinta mengandung kebijaksanaan. Buku ini layak menjadi koleksi bagi sobat Bronis yang  merayakan keberagaman cinta.

Oleh: Abhipraya Ardiansyah

2 Response Comments

  • emil_agus  April 22, 2015 at 2:56 am

    Mau pesen buku ini, gimana cara nya Min..??

    Reply

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.