“Bencong… Bencong…”

Sobat Bronis pasti sudah tidak asing lagi dengan kata-kata tersebut. Kata-kata ejekan yang biasa kita dengar sejak kecil saat melihat laki-laki yang tampil feminin. Tidak hanya waria, tetapi juga bagi laki-laki yang dianggap tidak “jantan”. Ya, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya hal-hal yang disebabkan oleh patriarki dan konstruksi masyarakat biner. Konstruksi itu berkembang dari lingkungan teman-teman sepermainan di usia dini, ke lingkungan selanjutnya. Lingkungan sekolah.

Sekolah sebagai institusi pendidikan seyogyanya menjadi tempat yang nyaman bagi semua siswa yang ada di dalamnya. Karena sekolah adalah tempat kita mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menunjang masa depan kita. Maka, dinamika sosial pun berlangsung di lingkungan sekolah ini. Berbagai interaksi terjadi antara siswa, guru, dan seluruh staf yang ada di sekolah. Interaksi ini menjadi sarana pembelajaran nilai dan norma, termasuk heteronormativitas dan gender biner.

Seperti yang kita ketahui, manusia kerap dianggap “aneh” jika tampil berbeda dengan mayoritas. Inilah fakta yang dialami LGBTI. Ditambah lagi dengan fakta bahwa nilai-nilai tersebut juga masuk ke dalam lingkungan sekolah. Dalam tahap tertentu, konstruksi tersebut bertransforamasi menjadi homophobia dan transphobia bagi sebagian orang. Hasilnya? Bullying berbasis orientasi seksual dan identitas gender pun dialami LGBTI muda di sekolah.

Homophobic dan transphobic bullying di sekolah bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya sesama siswa. Bahkan guru juga kerap menjadi pelakunya. Tidak jarang guru-guru mengucapkan ungkapan-ungkapan untuk “menormalkan” siswanya yang LGBTI. Misalnya, jika siswa LGBTI mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari temannya, si guru malah menyalahkan siswa tersebut. Karena “perilakunya” yang menyebabkan siswa lain berlaku tidak baik padanya. Kondisi ini, jika berlangsung terus-menerus, akan menjadi sebuah tekanan bagi kondisi psikologis siswa LGBTI. Tidak heran kalau bullying menjadi salah satu alasan terkuat bagi LGBTI untuk enggan masuk hingga berhenti dari sekolah.

Being LGBT in Asia bekerja sama dengan UNESCO menyelenggarakan Asia-Pacific Consultation on School Bullying on the Basis of Sexual Orientation, Gender Identity/Expressions di Bangkok, 15-17 Juni 2015. Pertemuan ini membahas tentang solusi dan strategi pencegahan bullying berbasis SOGIE di sekolah. Salah satu solusi yang dihasilkan adalah memberikan pehamanan SOGIE bagi tenaga pendidik. Karena banyak tenaga pengajar yang menghadapi siswa dengan permasalahan berbasis SOGIE, namun mereka tidak memiliki pemahaman yang cukup untuk menangani masalah tersebut.

Pada tahap berikutnya UNDP dan UNESCO akan mendukung konsultasi nasional di yang tergabung dalam fase kedua BLIA, seperti Cina, Indonesia, Filipina, dan Thailand. Diharapkan dalam konsultasi nasional tersebut, beberapa permasalahan dan solusi bagi setiap negara dapat diidentifikasi. Pada hasil terakhir pertemuan tersebut pula diluncurkan kampanye #PurpleMySchool. Kampanye online ini mengajak teman-teman, keluarga, guru, dan sekolah-sekolah untuk memberikan ruang aman bagi siswa LGBTI. Bentuk kampanye ini adalah menunjukkan solidaritas dengan menggunakan warna ungu. Misalnya dalam pakaian, gambar-gambar, dan berbagai bentuk kreativitas lainnya.

#PurpleMySchool bisa diakses melalui link http://www.campaign.com/PurpleMySchool. Sobat Bronis bisa bergabung dalam kampanye ini dengan signing, mengunggah foto, dan menuliskan quote. Jangan lupa gunakan Twitter dan Instagram sobat Bronis dengan mencantumkan hashtag #PurpleMySchool. Foto-foto terpilih akan disertakan dalam publikasi UNESCO, UNDP, dan Being LGBT in Asia. Pemenang juga berhak mendapatkan copy dari publikasi ini lho!

So, tunggu apa lagi sobat Bronis? Ayo kita dukung gerakan STOP homophobic dan transphobic bullying di sekolah!!

Sumber:
http://www.asia-pacific.undp.org/content/rbap/en/home/presscenter/pressreleases/2015/06/19/asia-pacific-countries-stand-united-against-homophobic-and-transphobic-bullying-in-schools-.html#

Oleh: Abhipraya Ardiansyah

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.