Sobat Bronis pasti udah nggak asing lagi dengan transman. Karena beberapa artikel di Bronis sudah membicarakan tentang transmen. Apalagi bicara soal gay! Pasti udah sangat familiar di benak sobat Bronis. Lalu, bagaimana dengan gay transman? Mungkin sobat Bronis masih asing dengan hal itu.

“Transman? Gay? Emang bisa? Emang ada ya?”

Sobat Bronis nggak perlu bingung! Kali ini, tim Brondongmanis akan menyajikan info tentang gay transman. Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, transman memiliki orientasi seksual yang bermacam-macam. Ada yang heteroseksual, biseksual, panseksual, aseksual, dan homoseksual. Nah, transman gay ini adalah mereka yang tertarik pada laki-laki. Kenapa gay? Karena mereka juga mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki.

Tim Brondongmanis melakukan wawancara singkat dengan seorang gay transman yang tinggal di Jakarta. Sebut saja Fabrizio Lorenzi. Simak ya!

Halo Fabrizio! Seneng banget kamu udah mau meluangkan waktu buat ngobrol-ngobrol! 
Gue yang tersanjung malah diwawancara begini. Hahahaha!

Oke, langsung aja ya. Gimana sih sampai kamu bisa pede banget declare “I am a happy transman and gay”?
Gue nggak bilang happy sih, tapi “I am gay transman”. Kenapa gue nggak bilang happy? Karena semua orang pun ada tantangan hidup. Untuk menjadi happy perlu proses yang panjang. Nggak menutup gender apa seseorang itu, usia berapa, pekerjaan apa, dsb. Gue belum mencapai ke-Happy-an itu.

Terus, kamu nemuin kesulitan nggak buat deal as gay transman? 
Kesulitan yang gue temui hanya dari pihak eksternal. Namun pihak internal, atau diri gue sendiri tidak. Karena inilah gue, dan gue bangga menjadi diri gue sendiri. Kesulitan pihak eksternal adalah ketika orang lain tidak bisa membedakan Orientasi Seksual dan Gender, dimana mereka mengategorikan orientasi seksual berdasarkan Seks Biologis, bukan Gender. Gue dicap straight, padahal bukan. Pola pikirnya pun berbeda, namanya juga gender berbeda pastilah berbeda. Sehingga banyak orang lain yang menolak bersama gue karena mereka melihat “sexual parts” gue, bukan gender gue. Padahal, ‘kan sekarang gue pacaran sama cowok straight ya. Terdapat kendala, ketika cowok gue melihat gue sebagai wanita karena pola pikirnya beda.

Wow! Ternyata banyak banget ya tantangan kamu sebagai gay transman! Kalau di komunitas gay gimana? Kamu nyaman nggak di sana? 
Gue nyaman karena mostly gue stealth. Cuma beberapa orang aja yang tau gue transguy. Cuma orang-orang terpilih aja.

Kamu pernah nggak punya pasangan yang gay? 
Ada, of course. Dari 2005 pasangan gue gay semua. Wahahahaha!

Sangaar dari tahun 2005!! Hahahaha… How did you deal with them? You know, apalagi banyak stereotip yang bilang kalau gay nggak jauh-jauh dari sex. 
Gue sih langsung cut orang-orang kayak gitu (red: ngejar seks aja). Nggak bakal gue ajak temenan juga.

Berarti kamu benar-benar selektif ya dalam memilih teman, apalagi pasangan? Sekarang kan pasangan kamu hetero, ngaruh nggak sih buat kamu?
Ngaruh. Karena dia nggak paham akan diri gue yang sebenarnya. Tapi, dalam diri dia pun ada sisi submisif, sehingga sebenarnya nggak bakal dia dapatkan kalau sama cis-girl. Dia agak-agak denial sih kalau dia submisif.

Hal itu ngeganggu nggak buat kamu?
Sometimes mengganggu, sehingga gue agak menghindari topik yang gender role banget.

Soal rencana kamu buat transisi, pernah kamu bahas ke dia nggak?
Nggak pernah, dan kayaknya mau ane postpone dalam waktu yang sangat lama, hingga mungkin nggak gue laksanakan. Banyak hal yang bikin gue mikir 5000 kali!

Misalnya apa tuh?
Keluarga, job. Gue kayak mau sukses dulu, at least have power.

Cool! Kamu well-prepared transmen! 
Well-prepared human juga. Hahahaha!

Oke, Fabrizio. Asik banget nih ngobrol-ngobrol kita! Ada pesan nggak buat sobat Bronis? 
Ya, salah satunya adalah, kita sebagai LGBT harus memahami betul akan SOGIE. Karena itu mengenai diri kita sendiri dan teman-teman kita. ‘Kan nggak lucu kalau satu bendera, tapi saling menghina karena nggak kenal. Kita sebagai LGBT harus berjuang sama-sama. Kalo nggak, ya malu di hadapan para straight, cis, kok kita aja nggak akur, gimana mau maju? Menjadi LGBT bukan soal seks aja, tetapi mengenal lebih jauh akan diri kita sendiri dan teman-teman satu bendera. Itu aja sih.

Kalau buat gay transmen di Indonesia, ada yang mau kamu sampaikan nggak? 
Tetap semangat! Kita nggak bakal bisa mengubah pola pikir orang lain, tetapi kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sehingga orang lain akan menghargai kita. Yang bisa kita ubah hanya diri kita sendiri.

Thanks banget buat waktunya, Fabrizio! Stay fabulous ya! 
Sama-sama!

Oleh: Abhipraya Ardiansyah

One Response Comment

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.