Dramaturgi adalah teori yang mengemukakan bahwa teater dan drama mempunyai makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Teori ini dicetuskan oleh Erving Goffman. Dramaturgi merupakan pendalaman dari konsep interaksi sosial, yang menandai ide-ide individu yang kemudian memicu perubahan sosial masyarakat menuju era kontemporer. Teori dramaturgi muncul sebagai reaksi atas konflik sosial dan rasial dalam masyarakat. Konsep dramaturgi ini mengenalkan kita pada konsep “drama” yang kita kenal di teater-teater pada umumnya, bahwa hidup ini seperti di dalam panggung sandiwara.

Dalam panggung sandiwara tersebut terdapat yang namanya skenario, mimik wajah, hingga narasi. Begitu pula dengan kehidupan. Erving Goffman menjelaskan bahwa terdapat konsep Frontstage dan Backstage. Frontstage adalah panggung utama dimana kita memerankan peranan-peranan yang masyarakat inginkan. Sementara backstage adalah belakang panggung dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri atau Goffman menyebutnya sebagai self.

Self sendiri menurut Mead merupakan mahluk hidup yang dapat melakukan tindakan, dan bukan sesuatu yang pasif yang semata-mata hanya menerima dan merespon suatu stimulus belaka. Secara hakiki, pandangan Mead merupakan isu sentral bagi interaksionisme simbolik. Jadi sesuatu akan cenderung untuk bertindak sesuai dengan keinginannya.

Dalam kasus seksualitas juga terdapat keterhubungan antara konsep dramaturgi. Bahwa masyarakat khususnya manusia memerankan sebuah peranan yang ingin ditampilkan di masyarakat dan penonton. Untuk mencegah adanya kesalahan-kesalahan, manusia akan melakukan percobaan sebelumnya di belakang panggung.

Seksualitas manusia cenderung melalui proses yang oleh gagasan Cooley harus melalui The Looking Glass Self. Gagasan ini memuat proses dimana manusia cenderung untuk melakukan. Pertama, kita mengembangkan bagaimana kita tampil bagi orang lain. Kedua, kita membayangkan bagaimana peniliaian mereka atas penampilan kita. Ketiga, kita mengembangkan sejenis perasaan-diri, seperti kebanggaan atau malu, sebagai akibat membayangkan penilaian orang lain tersebut.

Contohnya ketika manusia terlahir di dunia, ia akan melakukan proses imitasi untuk bagaimana kita akan tampil seperti melihat ayah yang memiliki pasangan seorang perempuan. Kemudian kita mencoba untuk melihat apakah orang akan menilai mempunyai pasangan lawan jenis atau heteroseksual adalah baik bagi masyarakat. Selanjutnya kita akan merasakan perasaan dimana kita nyaman atau tidak.

Ketika perasaan nyaman itu dapat diasosiasikan dengan Self kita yang nyaman dengan lawan jenis, kita akan menyebutnya sebagai heteroseksual. Namun, apakah perasaan menjadi heteroseksual akan selalu sama kepada orang lain? Jawabannya tidak. The Self kita sendiri kadang mencoba untuk memainkan peran yang kita inginkan misalnya seorang berpenis yang mencoba menggunakan Hijab ketika tidak ada orang di sekitarnya dan ia merasa nyaman akan itu. Sementara seseorang berpenis yang dikonstruksikan masyarakat tidak menggunakan hijab ini merasa nyaman menggunakan hijab dinamakan proses backstage, dimana ia harus keluar dari topeng yang masyarakat buat akan dirinya.

Seksualitas LGBT cenderung melalui proses dramaturgi dimana akan ada proses “sesuai dengan keinginan masyarakat”. Kemudian dibaliknya ada konsep keinginan atas The Self termasuk SOGIEB. Transgender contohnya, ketika ia kanak-kanak ia akan mencoba berperan sesuai dengan keinginan masyarakatnya, namun transgender yang mampu melepas topengnyalah yang berani mengungkapkan jati dirinya.

Pengekangan akan The Self seksualitas seseorang ini direlasikan dengan konsep heteronormatif dimana manusia ingin dianggap di dalam masyarakatnya. Tapi, seksualitas tidak semudah itu. Kadang manusia mengalami hal;

1. Sobat Bronis mungkin ingin menyembunyikan kesenangan-kesenangan tersembunyi (misalnya menggunakan pakaian perempuan ketika tidak ada orang)
2. Sobat Bronis mungkin ingin menyembunyikan kesalahan yang dibuat saat persiapan pertunjukan, langkah-langkah yang diambil untuk memperbaiki kesalahan tersebut (misalnya kita mencoba untuk tampil maskulin sebagai manusia berpenis, dan mencoba mengimitasi orang lain)
3. Sobat Bronis mungkin merasa perlu menunjukan hanya produk akhir dan menyembunyikan proses memproduksinya (misalnya seorang gay belajar dari heteroseksual seakan-akan dirinya adalah heteroseksual)
4. Sobat Bronis mungkin perlu menyembunyikan “kerja kotor” yang dilakukan untuk membuat produk akhir dari khalayak. Kerja kotor itu mungkin meliputi tugas-tugas yang “secara fisik kotor, semi-legal, dan menghinakan”, seperti laki-laki yang memiliki suara feminism akan cenderung memaskulinkan suaranya

Sobat Bronis sendiri kadang melakukan hal yang dinamakan Manajemen Impresi. Misalnya, apakah sobat Bronis sendiri menggunakan foto yang menurut kamu bagus untuk dipajang di Grindr dengan foto profil berbadan kotak enam dan cenderung menyembunyikan hal yang tidak ingin orang lain ketahui?

Kadang untuk isu seksualitas kita dikekang untuk menjadi orang lain dan lupa bahwa kita memiliki kita apa adanya. Melepaskan topeng yang dibuat masyarakat menjadi konsep yang berani mendobrak “stereotype” akan sebuah identitas. Bahkan ketika kita sudah mampu mendobrak topeng yang dibuat masyarakat. Misalnya mengakui “hey, gue Waria”, tapi manusia akan mengikuti nilai konsep kecantikan yang padahal kita tidak harus melulu mengikuti konsep tersebut. Jika kita mengidentifikasikan diri kita sebagai waria, kita masih bisa berpotongan rambut pendek atau tidak menggunakan make-up. Tapi itulah masyarakat, sulit sekali menjadi apa adanya kita.

Referensi:
Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. (Bandung : Rosdakarya 2004)

Oleh: Achmad Mujoko

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.