Beberapa waktu yang lalu Bronis telah membahas mengenai Transgender Day of Remembrance. Dimana TDOR adalah sebuah momentum untuk kita memperingati teman-teman transgender yang telah meninggal dan tersisihkan karena transphobia. Sebenarnya dalam psikologi sendiri tidak ada yang namanya transphobia. Ini hanya istilah yang digunakan untuk menyatakan ketakutan berlebih pada gender sesuatu yang dianggap tidak normal seperti transgender. Nah karena itu, kali ini Bronis akan coba bahas 7 alasan mengapa Transgender adalah hal yang normal! Yang beberapa waktu lalu bronis juga sempat singgung 10 alasan gay adalah normal.

1. APA?
Yup, APA. Menurut American Psychological Association: Sebuah keadaan psikologis dianggap sebagai gangguan mental hanya jika menyebabkan penderitaan yang signifikan. Banyak transgender tidak mengalami gender mereka sebagai sesuatu yang menyedihkan. Berarti mereka mengidentifikasikan diri sebagai transgender bukan merupakan gangguan mental. Untuk teman-teman transgender, masalah yang signifikan adalah menemukan sumber yang terjangkau, seperti konseling, terapi hormon, prosedur medis, dan dukungan sosial yang diperlukan untuk bebas mengekspresikan identitas gender mereka dan meminimalisir diskriminasi. Banyak hambatan lain dapat menyebabkan kesusahan, termasuk kurangnya penerimaan dalam masyarakat, pengalaman langsung atau tidak langsung dengan diskriminasi, atau penyerangan. Pengalaman ini dapat menyebabkan banyak transgender menderita dengan kecemasan, depresi, atau gangguan yang berhubungan dengan harga lebih tinggi dari cis-gender.

2. Pembohong itu yang gak normal!
Bahkan menurut penuturan APA diatas menjelaskan bahwa seorang transgender yang tidak mampu mengekspresikan gendernyalah yang menjadikannya sebuah gangguan mental. Misalnya, jika teman kita yang terlahir bervagina namun merasa dirinya seorang laki-laki, namun karena lingkungan sekitarnya memaksanya harus menjadi “perempuan” sosial, menyebabkan ia mengalami depresi. Ini yang menjelaskan bahwa transman adalah normal!

3. Di Skotlandia, laki pake rok?
Pernah ke Skotlandia? Gak pernah? Oke, gapapa. Di Skotlandia, salahsatu pakaian laki-lakinya berupa rok, bukan celana! Upaya penyesuaian gender misalnya dengan penggunaan aksesoris perempuan banyak dilakukan oleh teman-teman waria. Misalnya, seorang waria yang menggunakan rok karena rok diidentifikasikan sebagai perempuan. Tapi ini salah! Ternyata rok ini memiliki konteks budaya dan wilayah masing-masing. Tidak perlu jauh-jauh ke Skotlandia, kita pergi ke kraton Yogyakarta. Bukankah para sultan menggunakan sejenis rok dari batik?

Maka menjadi transgender adalah normal, karena alat verifikasi gender dibentuk sesuai dengan masyarakatnya, bukan karena ciptaan Tuhan. Normal ‘kan seorang sultan menggunakan sejenis rok?

4. Apakah seks = gender?

Seks tidak sama dengan gender. Seks adalah bentukan biologis yang diidentifikasikan dari keberadaan jenis kelamin, hormon, dan genosom. Kemudian gender adalah bentukan sosial dimana peranan gender dibentuk oleh masyarakat. Gender dan seks ini bisa saja berbeda karena hal yang (katanya) biologis tidak selalu bersesuaian dengan sosial. 

5. Seks, biologis atau sosial?
Berbicara seks tidak bisa hanya berbicara tentang keberadaan penis atau vagina sebagai alat verifikasi seks. Kita harus mempertimbangkan seperti hormon dan kromosom. Apakah Sobat Bronis pernah test hormonal dan kromosom yang menyatakan bahwa sobat Bronis adalah laki-laki atau perempuan biologis? Belum pernah? Bisa saja, misalnya Sobat Bronis memiliki penis dan berpakaian layaknya laki-laki, bagaimana jika di test hormone dan kromosom menyatakan bahwa kamu memiliki kecenderungan hormone Esterogen dan progesterone dan memiliki genosom XXY? Bukankah kamu bisa dikatakan seorang interseks?

6. Konsep kecantikan dan ketampanan!
Kalau gender, ekspresi gender, ketubuhan adalah hal yang benar-benar berbeda dan memang bentukan sosial, mengapa harus terus terkukung dengan konsep kecantikan dan ketampanan?

Contoh: – Seorang berpenis menggunakan baju laki-laki, namun merasa dirinya cantik
– Seorang berpenis menggunakan baju perempuan, namun merasa dirinya cantik
– Seorang berpenis menggunakan baju perempuan, namun merasa dirinya tampan

Konsep kecantikan untuk orang-orang yang mengerti bahwa konsep kecantikan dan ketampanan adalah konstruksi bukan lagi menjadi hal yang ajeg yang menjelaskan seseorang itu cantik atau tidak. Tapi lebih kepada perasaan, “wah gue cantik” atau “wah gue ganteng.”. Karena gender, ekspresi gender, dan identitas gender adalah hal yang benar-benar dibentuk oleh masyarakat.

7. Kita semua adalah transgender!
Kalau dalam ilmu sosial, kita tidak bisa mencapai status gender ekstrim pada satu waktu. Setidaknya konsep gender ibarat spektrum, sisi ekstrim kanan diibaratkan seorang dengan konsep laki-laki ideal yang terintegrasi baik biologis, gender, eskpresi gender, orientasi seksual, dan ekstrim kanan sebaliknya. Yang faktanya tidak pernah bisa ada. Kita semua adalah transgender! Coba lihat untuk Sobat Bronis yang berpenis, apakah pernah test kromosom? Apakah ayah sobat Bronis pernah mencuci baju (dimana hal domestik dikaitkan dengan konsep pekerjaan perempuan)?

Sudah tahu ‘kan bahwa kita semua itu diciptakan sangat-sangat berbeda? Bahkan kalau secara ekstrim diterjemahkan, kita semua memang benar-benar berbeda!

Salam keberagaman ya sobat 🙂

Oleh: Achmad Mujoko

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.