Seksualitas telah tergerus oleh arus modernitas. Relasi seksual terdefinisikan oleh perkembangan semangat industrialisasi modern. Semangat progresifitas dalam masyarakat modern, dengan mengandaikan manusia selalu bergerak maju menjadikan manusia melakukan seks dengan kalkulasi keuntungan, salah satunya yaitu keuntungan berupa reproduksi. Seksualitas tentu tercipta bukan karena rengekan bayi yang bahkan belum pernah tercipta. Maka dalam hal ini, definisi seksualitas modern menemukan jalan buntu. Seksualitas bukan hanya masalah produksi, seksualitas adalah masalah kenikmatan seperti yang diandaikan oleh Foucoult maka perilaku seksual yang tidak menghasilkan keturunan, termasuk LGBT menjadi terbenarkan.
                          
Dan argumentasion prokreasi sering digunakan untuk menyerang LGBT. Selain sejarah perkembangan modern, agama samawi-yang merupakan salah satu modus patriarki juga berusaha mendefinsikan seksualitas sebagai yang hanya pro kreasi. Bagaimana kemudian agama begitu getol menggiring umatnya agar semakin produktif dengan keturunan, karena memang Tuhan selalu merasa defisit penyembah. Dengan adanya penyembah maka tuhan ada, dan sebaliknya. Alasan inilah yang melatarbelkangi dokumen dokumen kitab suci hanya mendefinisikan seks sebagai hanya PIV ( penis on vagina ).
Kemudian PIV lah yang hanya dianggap normal dimasyarakat, tampil maskulin lewat rahim perempuan. Semakin jantan laki laki manakala penis mampu berfungsi secara sempurna, puncaknya dengan menghasilkan keturunan. Dan laki laki menggunakan mesin rahim demi popularitas mereka. Ingat ternyata perintah menghasilkan keturunan tidak murni perintah Tuhan, namun juga ajang unjuk kebolehan laki laki yang kemudian dilegitimasi oleh Tuhan yang juga dibuat laki laki.
Dengan munculnya gerakan indutrialisasi dimana terdapat polarisasi pada masyarakat, antara proletar dengan mereka yang kapitalis, mereka yang berposisi sebagai buruh tereksploitasi dalam relasi kuasa industri, pola pikir industri yang menjadikan masyarakat melihat bahwa segala sesuatu harus bersifat produktif. Campuran antara narasi agama, cara berpikir patriarki, kuasa kapitalis dan framework industri telah membawa dampak besar pada urusan seksualitas. Seksualitas kemudian terbawa menuju yang hanya bersifat prokreasi, produktivitas, dan popularitas. Dalam hal ini kita sadar ternyata hubungan seks melalui penis dan vagina tidak murni hanya karena nature, namun ternyata disusupi oleh berbagai kepentingan.
Permasalahan seks ternyata tidak hanya berkubang pada penis saya dan vaginamu, namun pada penis kita, penis tuhan, dan vagina sosial, vagina proletar. Padahal bukankah seharusnya seksualitas adalah masalah keintiman antara dua sejoli ( ?? ).
Sudah terbukti bahwa prokreasi adalah salah satu jenis produk dari sosial, namun masih banyak yang tidak terima.  Mereka sepertinya tidak pernah membaca jurnal ilmiah yang membeberkan data sejumlah spesies binatang yang berperilaku homoseksual, 1500 spesies yang melakukan perilaku yang non prokeasi. Jerapah, penguin,  juga termasuk penikmat perilaku homoseksual, lalu apakah mereka tidak natural, bukankah mereka betindak hanya karena instinct naturalistik dalam diri mereka. lalu ( ?? )
Perilaku kaum homoseksual yang tidak bisa menghasilkan keturunan tidaklah salah dengan titik seksualitas yang dipahami sebagai hanya seeking pelasure, dan bukan hanya prokreasi.
Terlalu sempit jika seksualitas hanya pada penis dan vagina. Eksplorasi perilaku seks merupakan hal yang justru sangat naluriah. Dan jika homoseksual dianggap tidak alamiah, justru kaum homoseksual adalah yang masih alamiah, belum tersusupi oleh relasi kuasa, industri, agama dan berbagai variabel artificial lainnya.
 
Oleh: Fathul Purnomo
Daftar Pustaka

 

Foucault, Michel.(1980). Power/Knowledge Selected Interview and Other Writings, New York : Pantheos Books. 

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.