Sobat bronis, kali ini kita akan sedikit menguak fakta tentang ketertarikan seorang Gay (homoseksual laki-laki) pada aroma keringet laki-laki nih. Memang sudah pasti penampilan aja, belum tentu menjadi jaminan apa orientasi seksual seorang laki-laki tersebut.
Jika dulu, gay selalu diidentikkan dengan kaus ketat, celana jins ketat, sandal dan juga tas bahu, kini tak semua gay memiliki ciri-ciri seperti itu. Beberapa di antaranya bahkan terlihat sama dengan laki-laki heteroseksual pada umumnya.
Seperti dikutip dari NYTimes, Selasa (18/1/2011) sangat sulit membedakan antara laki-laki homoseksual dengan laki-laki heteroseksual berdasarkan penampilan, karena laki-laki hetero bisa saja berpenampilan seperti gay, begitu pun sebaliknya.
Banyak juga yang menyamakan antara gay dengan metroseksual yang mengarah pada hal-hal feminin seperti pergi ke salon atau memakai pakaian berwarna merah muda. Padahal gay tidak bisa disamakan dengan metroseksual, karena gay memiliki perbedaan pada orientasi seksualnya dan bukan sekedar pada selera berpenampilan.
Bahkan sobat brownis, sebuah studi tahun 2005 menuturkan salah satu hal yang membedakan laki-laki gay dengan heteroseksual adalah respons yang berbeda ketika mencium bau keringat laki-laki. “Wahh.. Masaa sih??”
Ketika laki-laki homoseksual mencium bau keringat sesamanya, maka otak laki-laki homoseksual akan merespons bahan kimia dalam hormon testosteron sama seperti respons perempuan terhadap laki-laki.
Hasil temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas otak dan orientasi seksual saling berhubungan. Senyawa dalam testosteron akan mengaktifkan hipotalamus pada laki-laki homoseksual dan perempuan heteroseksual, tapi tidak pada laki-laki heteroseksual. Sebaliknya senyawa estrogen lah yang mengaktifkan hipotalamus pada laki-laki heteroseksual.
“Ini menunjukkan respons fisiologis yang berbeda terhadap stimulus eksternal yang sama, respons ini terjadi di wilayah otak yang terlibat dalam perilaku reproduksi,” ujar Ivanka Savic, ahli saraf dari Karolinska Institute, seperti dilansir nationalgeographic.com.
Satu hal yang perlu diingat nih guys, bahwa stereotip seringkali tidak mencerminkan realitas yang ada, seseorang yang muncul dengan stereotip gay mungkin saja tidak dan sebaliknya. Meskipun sulit menentukan apakah seseorang gay atau heteroseksual, kadang insting bisa memberikan jawabannya. Tapi jangan dijadiin contoh ya guys, kalo kalian nantinya berpikir bahwa bau keringet itu selalu dan pasti bisa menarik pasangan kita, karena belum tentu semua orang menyukai hal itu. Bisa gulung tiker deh para produsen deodorant.  Well, Semoga bermanfaat ya sobat bronis!
Oleh : Fyan Abdullah

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.