PIHai Bronis,

Hubungan seks bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan dan meningkatkan kesehatan fisik, mental dan sosial. Namun, kita juga harus berhati-hati dalam melakukan hubungan seksual karena tidak semua hubungan seksual itu bersifat aman.

Salah satu konsekuensi dari perilaku seks beresiko adalah terjangkit penyakit menular seksual atau IMS. IMS adalah istilah yang digunakan untuk segala jenis infeksi yang mediumnya (baik bakteri ataupun virus) berjangkit melalui cairan kelamin dan darah, dua jenis cairan yang sering sekali mengalami perpindahan dari tubuh seorang ke tubuh orang yang lainnya dalam sebuah hubungan seksual. Beberapa jenis IMS adalah gonore atau kencing nanah, sifilis atau raja singa dan HIV / AIDS, yang belum ditemukan obatnya hingga saat ini.

Pada Juli 2012 yang lalu, menteri kesehatan Nafsiah Mboi mengumumkan hasil penelitiannya bahwa HIV/AIDS masih merupakan sebuah masalah yang signifikan di Indonesia. Secara lebih spesifik,anggota Komisi Pencegahan AIDS Indonesia (KPAI) Kemal Siregar menyatakan bahwa terjadi peningkatan penularan HIV/ AIDS yang signifikan pada komunitas gay (meskipun ia tidak mengungkapkan angka yang konkret untuk menggambarkan peningkatan tersebut).

HIV/ AIDS dan penyakit menular seksual lainnya adalah konsekuensi dari hubungan seks tanpa kondom serta hubungan yang dilakukan dengan pasangan yang berbeda-beda, yang dianggap berisiko tinggi karena di situlah virus atau bakteri IMS rentan menular.

Lalu, kalau kita mau menghindari penularan IMS dengan cara mengurangi stress sangat mungkin muncul kebingungan di benak para Bronis, memangnya apa sih hubungan antara IMS dengan stress?

Untuk menjelaskan hal ini, perkenankanlah saya mengutip hasil penelitian yang dilakukan oleh Brennan mengenai perilaku seksual berisiko tinggi di kalangan homoseksual pada tahun 2007. Salah satu temuan Brennan adalah bahwa stress karena kekerasan fisik dan verbal yang dialami oleh individu gay sepanjang hidup mereka adalah salah satu penyebab mereka melakukan hubungan seksual berisiko tinggi.

Bronis, kita memang tinggal di Indonesia, sebuah negara yang masih homofobik. Belakangan ini, Pew Institute menemukan dalam studinya bahwa dari 1,000 anak muda yang mereka survey, 93% menyatakan menolak homoseksualitas. Kemudian laporan yang dikeluarkan oleh Forum LGBTIQ Indonesia tentang catatan kasus pelanggaran hak asasi manusia terhadap kaum LGBT juga merekam 47 kasus diskriminasi dan kekerasan fisik, terhadap kaum LGBT sepanjang 2012. Forum LGBTIQ Indonesia percaya bahwa angka tersebut baru menggambarkan pucuk gunung es dari seluruh kekerasan yang dialami oleh LGBT di Indonesia.

Sebagai seorang gay, mungkin kita mengalami banyak sekali “serangan” dari luar maupun dari dalam diri kita. Serangan dari luar bisa berupa cemoohan, prasangka, hinaan, makian, kekerasan fisik, penolakan, atau dikucilkan oleh teman sepergaulan dan lingkungan sekitar hanya karena orientasi seksual seseorang yang berbeda. Serangan dari luar ini kemudian menyebabkan kita “menyerang” diri kita sendiri: merasa stress, depresi, ingin bunuh diri serta tidak dapat menerima identitas seksual kita sendiri karena merasa bahwa kita “berdosa”, “abnormal” dan “menjijikkan”, persis seperti yang dituduhkan orang lain pada diri kita.

Stress atau depresi berat yang kita alami akibat stigma dari masyarakat, kemudian membuat kita mencari kenikmatan yang bisa dijadikan sebagai sasaran pelarian kita. Kenikmatan yang paling besar dalam hidup manusia, menurut sebuah penelitian, berasal dari hubungan seks.

Inilah yang kemudian menyebabkan banyak individu gay yang kemudian melakukan pelarian ke perilaku seks berisiko untuk dapat mengatasi stres yang mereka alami. Oleh karena itu, berikut ada beberapa tips yang dapat digunakan untuk mengurangi stres yang membebani pikiran akibat stigma yang selalu dilemparkan masyarakat sekitar:

Mengikuti kegiatan seni. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa berpartisipasi aktif dalam kegiatan seni seperti bermain musik, menggambar atau menari ternyata efektif meningkatkan endorfin, hormon yang meningkatkan rasa nikmat di otak. Seni juga bisa menjadi sarana pelampiasan emosi yang positif. Dengan ikut kegiatan seni, Bronis juga bisa menemukan teman-teman satu komunitas yang memiliki minat yang sama, yang bisa dijadikan sumber dukungan sosial saat sedang dilanda stress.
Aktif berolahraga. Olahraga juga adalah kegiatan yang dapat memicu pelepasan endorfin di otak. Kegiatan olahraga juga membantu kita untuk tidur nyenyak, salah satu kunci untuk mengatasi stress dan depresi.

Apabila Bronis bisa secara rutin melaksanakan dua hal ini, semoga saja rasa stress dan depresi lantaran diterpa homofobia masyarakat bisa berkurang karena telah mendapatkan cara pelampiasan stress yang positif. Semoga juga setelah ditemukannya cara pelampiasan stress yang positif ini, Bronis bisa mengurangi tendensi untuk melakukan perilaku seks yang berisiko tinggi

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.