PA 1Dari penelitian yang telah dilakukan, Center of American Progress menyebutkan bahwa setiap 1 dari 3 GWL pernah mengalami kekerasan saat menjalani sebuah hubungan atau biasa disebut KDP. Jadi, kekerasan serupa tidak hanya dialami oleh pasangan heteroseksual. Saling memaki, merendahkan, mengeksploitasi, menekan, mengekang, atau menyakiti secara fisik merupakan hal sering ditemukan dalam setiap hubungan.

Bagaimana cara mencegah kekerasan tersebut sebelum terjadi? Atur emosi!

Mengatur emosi memang tidak semudah mengatur volume televisi. Hal ini merupakan tantangan yang harus selalu dicoba untuk dilalui dengan baik. Yang harus kamu ingat adalah kamu akan melakukan ini sepanjang hidup kamu. Yap! Mengatur emosi adalah pelajaran seumur hidup.

Mayo Clinic, sebuah situs yang berbagai banyak informasi tentang kesehatan fisik dan mental, telah membagikan cara untuk mengatur emosi tersebut. Yuk, kita telusuri!

1. Gunakan waktu jeda
Setiap masalah pasti memicu emosi. Tapi, yang paling sering membuat runyam adalah tensi dari masalah yang belum dan tidak diselesaikan dengan baik. Nah, tensi ini harus diturunkan dulu sebelum kita bisa berbicara dengan pasangan kita. Kalau pihak yang merasa disakiti meminta untuk pergi menjauh, maka pihak yang merasa telah berbuat salah harus mengjinkannya. Catatan penting dalam menurunkan tensi ini memang kerja sama antara kedua pihak tersebut. Jika tidak ada yang merasa bersalah? Waktu jeda justru semakin dibutuhkan! Maka, atur waktu untuk kembali membicarakan masalah kalian berdua.

2. Ekspresikan kemarahan ketika sudah tenang
Marah itu bukan cuma bisa dilakukan ketika kepala dan hati panas lho. Saat keduanya sedang dingin, juga bisa. Jadi, alangkah lebih baik jika kita mengeluarkan salah satu emosi natural pemberian Tuhan ini di saat-saat seperti itu.

3. Lakukan aktivitas fisik
Lakukan olahraga. Nggak suka olahraga? Jalan kaki aja di mall, taman, museum, atau di atas api (kalau sanggup). Kegiatan fisik itu akan menyegarkan kamu. Selain itu, Ia bisa membantu kerja hormon kortisol yang sangat dibutuhkan dalam menanggulangi stres.

4. Berpikir sebelum berbicara
Saat sedang berdiskusi dengan dia, cobalah berbicara dengan cara bergiliran. Dengan cara ini, kalian akan terpicu untuk berusaha menelan informasi yang telah diutarakan oleh pasangan terlebih dahulu. Di saat hati dan kepala kembali panas ketika masalah belum selesai, gunakan waktu jeda lagi sehingga bisa berpikir lebih baik untuk diskusi selanjutnya.

5. Fokus pada solusi
Apa pun pencetus masalahnya, solusinya seringkali meminta pengorbanan dari kedua belah pihak. Jadi, kamu dan dia harus paham tujuan dari pengorbanan tersebut dan saling mengingatkan. Kalau tidak fokus pada solusi, yang mengambil alih pasti emosi.

6. Memulai opini dengan ‘aku’
Daripada berkata,”Kamu jorok! Nggak pernah mandi dua minggu!”, cobalah untuk berkata “Menurut aku, kamu itu kotor karena nggak pernah dua minggu.” Tujuan dari mengutarakan kata ‘aku’ untuk opini kamu adalah untuk menjelaskan sudut pandang permasalahan dari masing-masing pihak. Jadi, tidak ada generalisasi yang biasanya justru menaikkan tensi dan membuat pihak yang diajak bicara menjadi malas untuk berdiskusi.

7. Beri waktu untuk meredam dendam
Ini yang paling susah, sobat bronis. Memaafkan itu sangat membutuhkan waktu. Kalau kamu masih menggunakan kata-kata ‘memaafkan, tapi tidak melupakan’ justru semakin menunjukkan bahwa kamu belum bisa memaafkan dia. Redamlah dendam dengan ketenangan dan melakukan hal-hal yang tidak akan merugikan diri kamu dan orang lain.

8. Humor
Tonton film atau acara televisi komedi. Ucapkan sesuatu yang setidaknya membuat dirimu dan dia tersenyum saat tensi sedang turun. Hal ini akan menyulut pemikiran positif dari kalian berdua.

9. Berlatih relaksasi
Latihan pernafasan itu sangat baik untuk menghadapi stres dan menurunkan tensi. Ambil nafas dalam-dalam dan pikirkan hal-hal yang positif dan menyenangkan. Lalu, buang nafas dan buang pikiran-pikiran yang negatif. Mendengarkan musik juga bisa membantu.

10. Tahu kapan untuk meminta bantuan
Jika kamu tidak lagi bisa mengonrol emosi dan sudah melakukan hal-hal yang menyakiti diri kamu dan/atau orang lain, kamu harus bisa menerima bahwa kamu butuh bantuan. Berbicaralah kepada seseorang yang lebih tua dan/atau lebih bijak yang bisa kamu percaya. Jika tidak berhasil juga dan emosi kamu masih terus meluap-luap selama beberapa bulan, berarti kamu harus butuh berbicara dengan psikolog.

Begitulah poin-poin sederhana dari pelajaran seumur hidup yang harus kita jalani. Siap untuk mengatur emosi? Artinya, kamu siap untuk bilang tidak pada kekerasan juga.

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.