PBDulu keluarga saya tinggal di daerah Matraman, di Jalan Tegalan tepatnya. Di seberang toko buku Gramedia, ada sebuah tempat di mana saya sering sekali menyempatkan waktu melihat buku-buku baru dan kaset-kaset baru. Ketika itu, satu album masih bisa dicoba dengar sebelum kita memutuskan untuk membelinya. Saya selalu ke sana bersama adik-adik saya. Tapi, paling sering dengan teman sekolah.

Pada saat SMP dan SMA, saya mempunyai banyak teman gaul. Karena mulai menyanyi sejak kecil, saya sering muncul di TV dan sering menjadi target kebencian anak-anak perempuan di sekolah. Karena itu, teman bergaul saya kebanyakan laki-laki, yang terdiri dari dua tipe: anak metal dan gay.

Antara anak metal dan gay bagaikan Kutub Utara dan Kutub Selatan. Mereka sama-sama bingung dengan pilihan saya dalam berteman. Anak-anak metal selalu merasa heran setiap kali saya datang dengan “dayang-dayang”. Mereka suka menggoda, meledek, tetapi tanpa keagresifan.

Ejekan mereka biasanya selalu dijawab dengan kadar humor yang sangat tinggi oleh teman-teman gay saya, yang mereka sendiri tak pernah bisa mengerti mengapa saya bisa berteman dengan orang-orang gondrong yang ganti kaus kaki saja malas.

Yang jelas, setiap pertemuan selalu diakhiri gelak tawa.

Sekarang, teman-teman saya hampir seluruhnya pria. Sebagian besar mereka adalah musisi, hal ini normal karena profesi saya sebagai penyanyi. Teman gay saya lebih banyak lagi. Saya hampir tidak mempunyai teman perempuan. Kemungkinan trauma dibenci ketika sekolah dulu masih belum pudar.

Entah kenapa saya selalu mempunyai kemudahan berkomunikasi dengan para gay. Mungkin karena mereka ganteng, lucu, pintar, kreatif, dalam dan juga karena tidak ada sisi ambiguitas antara saya yang perempuan dan mereka yang lelaki.

Tetapi ada satu poin yang jauh lebih penting dari yang tampak di permukaan. Hampir semua mempunyai background yang tidak mudah karena orientasi seksual mereka. Kebanyakan dari mereka “dibuang” oleh keluarga, korban bully dan bahkan korban kekerasan atau homofobia.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis seorang psikolog anak. Dia menjelaskan bahwa kesukaran yang dihadapi seorang anak pada masa kecil dan remaja, bisa membantu mereka dalam pertumbuhan sosial setelah dewasa, tetapi efeknya juga bisa menghilangkan kapasitas mereka dalam membangun rasa percaya diri.

Saya pikir teori ini menarik, survival instinct kita hanya bisa timbul dan diasah apabila kita sering berhadapan dengan kesukaran. Seperti halnya seseorang yang kehilangan satu indera, otomatis indera-indera yang lain bisa jauh lebih tajam.

Mungkin teman-teman saya pernah mengalami kesukaran yang mengharuskan mereka menjadi individu yang kuat, ambisius, humoristik, intelektual dan mempunyai level empati yang sangat tinggi.

Kejadian tragis di Orlando sangat memukul. Kesedihan ini bukan hanya dirasakan oleh kaum LGBT tetapi juga oleh seluruh dunia. Seluruh dunia? Ya, tetapi sayangnya bukan oleh seluruh manusia.

Melalui Twitter, Instagram dan Facebook, saya mengungkapkan kesedihan saya. Saya unggah beberapa foto dengan caption yang saya harap bisa menerjemahkan kesedihan, kekecewaan dan harapan saya. Tapi, sekali lagi, saya terpukul. Kaget membaca banyaknya komentar yang tidak hanya mensyukuri kematian para korban, menghina kaum LGBT, bahkan ada yang mengungkapkan bahwa peristiwa itu adalah sesuatu yang normal.

Tadinya saya menganggap pandangan mereka yang berkomentar seperti itu sebagai pandangan orang tertutup dan tak-berpendidikan. Tetapi, masalahnya bukan di situ.
Kita hidup di era informasi yang memberi akses ke semua orang untuk mengetahui segala hal, yang tadinya tidak diketahui. Di era ini, jika kita buta informasi itu artinya kita memilih untuk buta.

Dan di luar keputusan setiap orang untuk “tidak ingin tahu”, otomatis ada pemilihan informasi yang selektif. Mereka hanya bisa bergerak dan hanya bisa bertanggap dalam hal yang mereka kuasai saja, tidak ada ruang untuk jenis informasi, ide atau opini lain. Artinya tidak ada kemungkinan untuk bisa membuka mata.

Omar Mateen pelaku pembunuhan di Orlando adalah warga negara Amerika keturunan Afghanistan. Pers di dunia sangat cepat mengambil kesimpulan antara negara asalnya dan agamanya. Dan dengan banyaknya aksi terorisme yang terjadi belakangan ini dengan mengatasnamakan Islam, membuat kaum Muslim di mana pun mereka berada menjadi kambing hitam.

Profil sang pembunuh sudah tersebar di internet. Omar adalah seorang Muslim, sudah cerai dan ternyata sering mengunjungi Gay Club “Pulse” tempat di mana pembunuhan berlangsung. Konon sang pelaku adalah seorang homoseksual yang frustrasi.

Professor Richard Ryan dari University of Rochester di New York mempunyai teori tentang “Homophobia, Self-Phobia”. Berdasarkan tes yang dilakukan di beberapa universitas berbeda, terungkap bahwa seseorang yang mempunyai kelakuan homofobik yang ekstrim, punya kemungkinan besar dia seorang homoseksual juga.

Bagaimana kelakuan homofobik bisa terjadi? Jawabannya, karena ditempa doktrin sejak kecil. Jika seorang anak diajarkan orang tuanya bahwa homoseksualitas adalah suatu penyakit, kelainan alam, dosa besar, sesuatu yang memalukan, yang harus dibenci dan dibinasakan, maka sang anak akan percaya seumur hidup dengan informasi tersebut.

Tidak ada ruang untuk informasi lain.

Omar Mateen mungkin sejak muda diajarkan sesuatu yang sama, ditambah lagi dengan ajaran Islam yang melarang homoseksualitas (agama Kristen dan Yahudi juga melarang). Dan ternyata setelah dia sendiri sadar bahwa orientasi seksualnya sangat bertentangan dengan ajaran hidup dan agamanya, lahirlah frustrasi yang menjelma menjadi kebencian.

Absennya ruang untuk pemikiran lain bisa menjadi sangat fatal.

Andai dia tahu bahwa seksualitas adalah hal yang sangat natural seperti halnya bernafas, mungkin dia akan bersikap lain. Orientasi seksual bukanlah sebuah pilihan yang bisa digonta-ganti, bukan juga sebuah kelainan. Ia bukan penyakit dan tidak bisa menular.

Heteroseksual bukan berarti “orang normal” dan homoseksual “orang tidak normal.” Andai Omar Mateen lahir dalam keluarga yang mencintai tanpa menghakimi, yang memberinya mentalitas baik dan rasa empati yang tinggi, mungkin perjalanan hidupnya menjadi lain.

Kebenaran bukan hanya satu dan hidup tidak sesempit lubang kunci. Setiap manusia berhak memiliki kebutuhan berbeda dengan yang lain tanpa mengganggu siapa pun. Andai saja Omar Mateen tahu bahwa sesungguhnya dia telah memenjara dirinya sendiri. Agama sepatutnya menjadi panutan hidup yang indah yang memberi kedamaian, mengajarkan toleransi, cinta dan tanpa kebencian.

Cinta adalah hak asasi manusia.

Harvey Milk, seorang politikus Amerika, gay aktivis dan tewas dibunuh pada akhir tahun 70an pernah berkata : “If a bullet should enter my brain, let that bullet destroy every closet door.”

Sudah saatnya kita membuka lebar pintu hati.

RIP my gay brothers and sisters.

Sumber : http://www.qureta.com/post/cinta-adalah-hak-asasi-manusia

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.