JP

Lebaran merupakan momok yang paling ditunggu-tunggu di Indonesia. Setelah 1 bulan berpuasa kita bisa meluangkan barang 1 atau 2 hari untuk merayakan kemenangan. Bukan hanya bagi yang berpuasa, namun momok lebaran menjadi momok yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat seluruh Indonesia. Mulai dari moment kita bisa berjumpa keluarga di kampung halaman—bagi perantauan, baju baru, bermaaf-maafan, hingga balas dendam makan di siang hari dengan opor ayam, ketupat, atau semur daging.

Namun kita tidak bisa mengeneralisir bahwa momok lebaran selalu membahagiakan bagi setiap orang. Berbeda bagi beberapa kalangan, misalnya kelompok minoritas. Bagi LGBT mungkin momen lebaran menjadi hal yang dilematis mengenai sebuah ekspektasi dan realitas. Terlebih untuk LGBT yang sudah coming-out atau sudah diketahui status LGBTnya. Ekspektasi lebaran teman-teman LGBT hampir sama dengan teman-teman heteroseksual, namun bagi LGBT realitas tidak berjalan sesuai dengan eskpektasinya. LGBT mengekspektasikan akan diterima dengan baik di keluarga, akan mendapatkan maaf, hingga diakui sebagai LGBT. Namun realitasnya tidak demikian. Pernah dalam satu diskusi dengan waria remaja, ketika ia kembali pulang ke kampung halamannya, ia harus menutupi jati dirinya sebagai waria. Ia dipaksa oleh sosialnya untuk menjadi laki-laki seperti pada umumnya.

Dalam sebuah perilaku, terdapat perilaku yang diekspektasikan oleh masyarakat yaitu perilaku interdependen dan perilaku yang benar-benar independen yang bukan karena ekspektasi tertentu kepada aktor. Ketika pulang kampung, teman-teman LGBT diekspektasikan untuk menjadi individu yang “normal” yang padahal bertentangan dengan keinginan individunya. Sehingga untuk LGBT terdapat 3 pilihan; memilih untuk mempertahankan perilaku independennya dengan tidak pulang kampung, memilih pulang kampung namun dengan mengikuti ekspektasi sosial, atau memilih pulang kampung dengan mengikuti ekspektasi dirinya sendiri dengan konsekuensi dirinya akan dikucilkan. Kemungkinan-kemungkinan ini menjadikan lebaran sebagai momok yang dilematis, disatu pihak ia ingin merasakan apa yang orang lain rasakan ketika lebaran. Namun dilain pihak ia harus mempertimbangakan statusnya sebagai LGBT. Mungkin masih lebih baik bagi orang yang tidak memilih membuka statusnya sebagai LGBT atau menutupinya.

Dalam teori Dramaturgi yang diperkenalkan oleh Erving Goffman menjelaskan bahwa hidup ini seperti panggung sandiwara. Setelah kita mengetahui bahwa perilaku interdependent dipengaruhi oleh ekspektasi sosial. Erving Goffman pun menjelaskan bahwa dalam panggung sandiwara terdapat Front Stage, dan back stage. Di front stage, kita bermain di ranah ekspektasi sosial. Dalam lebaran, kita sebenarnya juga bermain di ranah ekspektasi sosial. Misalnya ekspektasi sosial menginginkan kita untuk menggunakan pakaian baru ketika lebaran, dan kita dipaksa agar membeli baju baru ketika lebaran. Pernah dalam satu waktu saya diceritakan oleh teman saya yang seorang pekerja seks laki-laki. Ketika bulan puasa, orderan seks sangat turun sehingga ia harus memutar akal untuk mencari keuntungan. Salah satu caranya dengan pergi ke Bali untuk mencari peruntungan saat bulan Ramadhan. Ekspektasi sosial ini ternyata memaksa kita untuk melakukan sesuatu hal yang diinginkan sosial.

Oleh : Achmad Mujoko

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.