kataaksara

Sebenarnya tulisan ini saya tulis karena saya tergelitik melihat quote diatas yang mengartikan bahwa kita terlalu letih untuk menjadi terlihat normal. Saya sangat sepakat dengan pernyataan diatas, karena kita semua adalah unik dan tidak bisa menjadi normal seperti apa yang masyarakat harapkan. Hampir semua dari kita menghabiskan porsi dari hidup kita berharap bahwa kita menjadi normal. Kita bekerja, kita berpakaian rapi, kita menguruskan badan, hingga kita membeli handphone juga merupakan upaya kita untuk dilihat sebagai normal. Upaya-upaya menjadi normal itu ternyata memberikan efek psikologis yang luar biasa bagi manusia.

Misalnya National Institute of Mental Health mengestimasikan 1 dari 4 orang amerika memiliki permasalahan mental. Seseorang dengan permasalahan mental memiliki perilaku, perasaan, dan pemikiran yang berbeda dari norma yang ada. Dalam kondisi ini, orang yang tidak “normal” dianggap tidak cocok dengan apa yang masyarakat anggap sebagai standar normal. Coba kita renungkan apa yang disebut dengan normal, hal ini lebih dalam arti menentukan cara kita berpikir dan bertindak sama—atau setidaknya sama dengan—mayoritas orang lain.

Seperti menjadi LGBT. Kita dipaksa oleh sosial yang mendefinisikan LGBT sebagai bentuk tidak “normalan”. Kenapa menggunakan tanda kutip? Karena sebuah “normalitas” merupakan bentuk konstruksi sosial. Orang akan menganggap dirinya “normal” ketika mereka mengikuti apa kata mayoritas. Ini hanya dalam perspektif sosial, berbeda jika kita menggunakan perspektif yang lebih baku seperti perspektif Psikologi. Psikologi telah mendefinisikan mana-mana saja bentuk abnormalitas dalam buku besar Diagnosis Statistical Manual (DSM). Itu juga mengapa ada kasus LGBT “sembuh”, mantan LGBT, LGBT in denial. Karena sosial memaksa mereka untuk mengikuti standar normal; heteroseksual.

Jika berbicara tentang seksualitas, bukan hanya masalah LGBT yang dianggap normal atau tidak normal, dari hal sepele. Misalnya laki-laki dengan suara yang cempreng/feminim dianggap sebuah hal yang “tidak normal”. Menjadikan orang tersebut berupaya sedemikian rupa untuk mengikuti standar normal masyarakat. Tidak “normalan” juga diejawantahkan di dalam internal LGBT sendiri, misalnya laki-laki haruslah muscle, manly, dan sebagainya. Menjadikan individu yang dianggap tidak “normal” berupaya sedemikian rupa agar mengamini apa yang diharapkan oleh sesama LGBTnya. Ada stereotip di dalam komunitas LGBT sendiri.

Saya juga sangat tercengang ketika membaca headline di grindr yang berkata “apa yang ingin kamu lihat dari orang lain adalah apa yang orang lain ingin lihat dari dirimu”. Ini menjadi refleksi bagi saya, saya menginginkan pasangan yang maskulin, berotot, dan tampan. Artinya juga mereka mengekspektasikan hal yang sama kepada saya, dan saya tidak seperti itu.

Semua standar mengenai normalitas membuat kita muak. Menjadikan kita tidak sadar bahwa kita adalah unik, setiap manusia dilahirkan unik. Tidak ada satu orangpun di dunia yang terlahir serupa, bahkan untuk seorang kembar sekalipun. Jika bisa dikatakan lebih ekstrim lagi tentang normalitas, mungkin masyarakat menginginkan semua manusia di dunia ini adalah kembar. Semua sama. Padahal menurut Komarudin Hidayat, manusia memiliki 98% persamaan dan 2% perbedaan. Tidak bisa setiap manusia sama 100%.

 

Oleh : Achmad Mujoko

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.