St

A          : Kan LGBT sukanya sama dunia malam

B          : ((kayaknya gue gak pernah clubbing deh)), tau dari mana?

A          : TV

 

Halo sobat bronis. Masih sering mendapatkan pertanyaan atau pernyataan yang sering mengeneralisir LGBT seperti diatas? Itu namanya stereotip negatif terhadap seseorang atau suatu kelompok Sobat!

Stereotip ini banyak terjadi antara teman-teman non LGBT kepada LGBT. Bahkan dalam internal LGBT sendiri juga terdapat stereotip sesama LGBT. Tapi kali ini Brondongmanis akan coba ulas stereotip yang berkembang di masyarakat mengenai LGBT.

 

Sebelum membahas lebih dalam mengenai stereotip LGBT, baiknya kita tahu dulu apa definisi stereotip. Menurut Walter Lippman, stereotip merupakan bentuk generalisasi yang relatif mengenai kelompok atau kelompok individu yang menjurus pada ranah yang tidak mengenakkan. Biasanya stereotip ini terus diproduksi oleh masyarakat dan sulit sekali untuk diubah. Dan ini juga terjadi pada teman-teman LGBT dari masyarakat.

 

LGBT suka seks

Sepertinya bukan hanya LGBT yang menyukai seks, namun juga setiap manusia pasti suka seks. Kecuali untuk mereka yang aseksual, atau seks ketika diperkosa.

 

LGBT paedofilia

Peran media memang sangat penting dalam mendistribusikan stereotip terhadap LGBT. Media banyak memperlihatkan kasus dimana LGBT adalah seorang paedofilia, yang padahal tidak demikian. Banyak paedofilia yang dilakukan oleh heteroseksual, tapi tidak di blow-up oleh media.

 

Bineritas

Tau istilah Top/Bot, Butch/Femme, maskulin/feminim? Hellow, dunia tidak sebiner itu. Banyak masyarakat menganggap misalnya gay ada sosok “laki” dan sosok “cewek”. “Laki” yang dimaksud oleh masyarakat adalah sosok maskulin, dan sosok “cewek” adalah sosok yang feminim. Yang padahal seksualitas itu tidak se-sederhana itu, bisa saja gay yang feminim berpasangan dengan gay feminim, dan mungkin saja mereka tidak melakukan hubungan seks. Yang membuat saya geram adalah ketika ada yang mendefinisikan seseorang sebagai gay karena perilaku mereka yang agak feminim. Padahal saya sendiri punya teman yang meskipun ia feminim, ia tetap mendeklarasikan sebagai heteroseksual.

 

LGBT sukanya fun

Iyalah, siapa sih yang gak suka fun? Kadang masyarakat menganggap bahwa hidup LGBT adalah buat fun-fun saja. Misalnya LGBT dianggap sering clubbing, sering berhubungan seks, sering mengganggu, gak suka kerja, dan lain sebagainya. Yang padahal hal itu juga banyak dilakukan oleh teman-teman heteroseksual bukan?

 

LGBT gak bisa ngapa-ngapain

Stereotip ini dibentuk karena masyarakat melihat bahwa kerja-kerja LGBT, terutama waria adalah di ranah Pekerja Seks, Pengamen, atau Salon. Faktanya LGBT bisa melakukan ini dan itu, mulai dari pedagang sampai pejabat. Konsekuensi ketika masyarakat melabelkan LGBT sebagai kelompok yang tidak bisa melakukan kerja apapun adalah lapangan kerja yang minim bagi LGBT.

 

Sebenarnya masih banyak lagi stereotip yang melekat pada label LGBT. Mulai dari gaya busana hingga selangkangan. Tapi yang penting untuk sobat bronis lakukan adalah break the chain! Karena stereotip ini seperti lingkaran setan. Kadang kita sendiri tidak sadar bahwa kita melakukan hal yang sama, melakukan stereotiping kepada teman-teman LGBT. Bukan hanya kita, namun menurut saya media juga sangat berpengaruh pada pembentukan stereotip ini. Langkah paling bijak untuk menghancurkan lingkaran setan stereotip ini adalah dengan menunjukkan sisi positif menjadi LGBT. Misalnya LGBT bisa juga melakukan kerja-kerja profesional, bisa berprestasi, bisa menjadi orang yang berpengaruh di negeri Indonesia ini, dan sebagainya. Jangan perkuat stereotip yang ada di masyarakat dengan mengamini atau bahkan turut menstereotip orang lain.

 

Oleh : Achmad Mujoko

One Response Comment

  • Utie  September 10, 2016 at 3:32 pm

    Hi Achmad, salam kenal!

    Memang susah membuka mata sebagian orang yg tinggal di negara yg masih menganggap bahwa LGBT adalah sesuatu yg tabu ditambah tayangan tv yg makin memperparah stereotipe yg salah tsb. Sekali2 lah org2 tsb piknik ke negara yg sudah memberikan persamaan hak terhadap LGBT, untuk menambah wawasan.

    Atleast jd belajar hal simpel saja dulu seperti belajar bertoleransi.

    – Utie

    Reply

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.