Siapa yang berkuasa di dunia ini? Banyak sekali. Namun menurut Wright Mills, kekuasaan dipegang oleh Pemilik Modal, Pejabat Negara, dan Penguasa Militer. Lalu apa hubungannya dengan LGBT? Kali ini Brondongmanis akan coba mengulas mengenai kaitan antara kekuasaan dan isu LGBT.

Queer 00

Brondongmanis akan menggunakan teori Queer dalam membahas LGBT dan Kekuasaan, ada yang pernah tahu teori Queer? Atau bingung? Harus bingung! Karena Teori Queer memanglah serangkaian gagasan yang berakar pada anggapan bahwa identitas bersifat tidak tetap dan stabil, dan tidak menentukan siapa diri kita. Karena identitas dibentuk oleh konstruksi sosial dan historis yang sifatnya bisa berubah-ubah dan bisa dibantah.

Memang landasan teori Queer adalah menentang anggapan tentang identitas yang tetap dan mendukung proyeksi identitas yang terbuka dan inklusif. Ini artinya memang agak sulit mendefinisikan teori Queer, karena jika kita mendefinisikan teori Queer itu artinya menghilangkan esensi teori itu sendiri yang bersifat cair. Pada dasarnya teori Queer ini banyak digunakan dalam isu seksualitas, namun beberapa sosiolog juga menggunakan istilah Queer untuk menunjuk pada kata benda yang non-identitas.

Pada dasarnya teori Queer bukanlah teori yang menjelaskan tentang Queer. Queer dulu dianggap sebagai teman-teman LGBT yang dianggap “menyimpang”. Sementara teori Queer mencoba bermain di ranah yang lebih luas lagi, tentang bagaimana segala sesuatunya cair dan tidak terkotakkan serta mendefinisikan teori Queer sebagai tidak terdefinisikan. Perlu banget untuk kita mulai memikirkan bagaimana posisi LGBT dalam pendekatan teori Queer. Memang agak sulit jika kita lagi-lagi mengkotakkan antara LGBT dan non LGBT. Namun inti dari teori Queer ini adalah bagaimana kekuasaan membentuk pengetahuan dan kemudian pengetahuan membentuk identitas.

Ada empat pilar dari teori Queer menurut Ariene Stein yang sangat berkaitan dengan konstruksi kekuasaan:

  • Bergantung pada relasi kekuasaan misalnya kenapa heteronormatif menjadi identitas yang begitu diamini oleh masyarakat, karena para penguasa memainkan peran di ranah heteroseksual. Pun demikian mengapa label-label negatif muncul pada identitas non heteroseksual misalnya identitas “penular HIV” merujuk pada waria dan gay. Kemudian identitas ini menimbulkan bineritas bahwa hetero=baik dan non-hetero=buruk, yang padahal mereka dimainkan oleh kekuasaan.
  • Perubahan makna kita lihat, dulu heteroseksual merujuk pada identitas untuk melakukan seks kepada lawan jenis, bukan perilakunya. Namun terdapat perubahan makna dimana identitas heteroseksual yang merupakan ketertarikan, bukan perilaku juga turut mendefinisikan perilaku seseorang.
  • Melawan adalah melegitimasi posisi penindasnya, misalnya terdapat sebuah demo untuk menuntut hak LGBT, yang padahal ketika terdapat demo tersebut sebenarnya melegitimasi posisi anti-LGBT. Ini artinya kekuasaan non-LGBT semakin kuat jika LGBT melakukan perlawanan.
  • Permainan Identitas; buku, video, festival, pendidikan, sebenarnya adalah bentuk representasi dari permainan identitas seksual pemilik kekuasaan.

Jika merefleksikan LGBT dan Kekuasaan di Indonesia, memang LGBT sangat dilihat pada ranah sangat minim memiliki kuasa. Teori queer tidak membahas bagaimanaa caranya kekuasaan menindas LGBT, namun bagaimana teori ini mendekonstruksi pemikiran biner dan kotak akan identitas. Harapannya memang tidak ada lagi bias LGBT & non-LGBT yang dipengaruhi kekuasaan.

Daftar Pustaka : Ritzer, G. (2012). Teori Soisologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmoderen (Vol. VIII). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Oleh : Achmad Mujoko

 

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.