Spo
All children, irrespective of their actual or perceived sexual orientation or gender identity, have the right to a safe and healthy childhood that is free from discrimination.”-UNICEF dalam Position Paper No.9 2014

81.3 juta jiwa dari 237.6 juta jiwa atau sepertiga dari penduduk Indonesia adalah anak berusia dibawah 18 tahun (BPS, 2010). Namun, dibalik tingginya penduduk anak di Indonesia. Permasalahan yang terjadi pada anak juga banyak terjadi. Setiap 3 menit, satu anak meninggal sebelum mencapai usia lima tahun. 2.3 juta anak berusia 7-15 tahun putus sekolah. Hingga kekerasan yang terjadi pada anak setiap harinya terjadi. Menurut laporan UNICEF, kekerasan terhadap anak banyak terjadi di Indonesia mulai dari bentuk bullying, hingga kekerasan seksual. Kita juga bisa melihat banyak kekerasan yang terjadi dan dilakukan mulai dari ranah keluarga hingga ranah sekolah. Kekerasan yang terjadi dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan verbal, hingga kekerasan seksual. Kerentanan kekerasan juga terjadi pada anak yang memiliki orientasi seksual atau identitas gender yang berbeda dengan orang lain. Mungkin sobat bronis juga tahu bahwa jika seorang anak laki-laki yang memiliki ekspresi feminim, banyak mendapatkan kekerasan dari teman, hingga guru.

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Peringatan hari anak nasional ini dilakukan untuk memperingati dan memberikan kesadaran bagi masyarakat Indonesia mengenai hak-hak anak. Tapi sobat, apakah sobat bronis sudah tahu apa saja hak-hak anak? PBB menjelaskan bahwa ada 10 hak anak:

  1. Hak untuk bermain
  2. Hak untuk mendapatkan pendidikan
  3. Hak untuk mendapatkan perlindungan
  4. Hak untuk mendapatkan nama (identitas)
  5. Hak untuk mendapatkan status kebangsaan
  6. Hak untuk mendapatkan makanan
  7. Hak untuk mendapatkan akses kesehatan
  8. Hak untuk mendapatkan rekreasi
  9. Hak untuk mendapatkan kesamaan
  10. Hak untuk berperan dalam pembangunan

Selain 10 hak anak diatas, hak anak juga memiliki 4 prinsip yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan dan perkembangan serta penghargaan terhadap pendapat anak. Negara seharusnya memastikan bahwa setiap hak asasi manusia dilindungi. Jika terjadi pelanggaran hak asasi, maka negaralah yang bertanggung jawab menyelesaikan pelanggaran hak tersebut. Termasuk hak asasi anak. Negara telah menegaskan komitmennya atas prinsip non-diskriminasi dalam UUD 1945 pasal 28 I (2) yang menyatakan:

“Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”

Kata “setiap orang” ini artinya tidak terkecuali pada LGBT anak. UNICEF sendiri telah menegaskan dalam position papernya bahwa ia menolak segala bentuk kekerasan terhadap anak termasuk anak dengan LGBT. Lucunya lagi, di Indonesia melegalkan perkawinan usia anak. Anak perempuan usia 16 tahun diperbolehkan menikah oleh negara melalui UU No.1 tahun 1974, dan anak juga diperbolehkan menikah dibawah usia 16 tahun jika wali/orang tua mengizinkan anak untuk menikah. Yang padahal, pernikahan bagi anak menimbulkan banyak dampak, mulai dari kekerasan di rumah tangga, perceraian, hingga kematian anak. Dan negara memperbolehkan kekerasan itu terjadi.

Kekerasan terhadap LGBT anak masih banyak terjadi, yang padahal jika kita melihat pada empat prinsip hak anak. Anak seharusnya mendapatkan pemenuhan hak tidak berdasarkan orientasi seksual atau identitas gendernya. Namun, di masyarakat yang heteronormatif ini menekankan pada anak mengenai prinisip heteronormativitas. Anak tidak dijelaskan mengenai keberagaman identitas gender dan orientasi seksual. Mengajarkan mengenai seksualitas anak bukan berarti mendidik anak menjadi LGBT, namun justeru menjelaskan pada anak prinsip penghargaan kepada seksualitas manusia yang beragam. Menurut Internasional Technical Guideline on Sexuality Education (ITGSE), pendidikan seksualitas yang komprehensif sebenarnya menjadi batu lompatan untuk memastikan setiap anak mengetahui seksualitasnya. Bukan hanya dalam konteks keberagaman seksual, namun juga memastikan bahwa anak terkapasitasi dari perlindungan kekerasan, seks beresiko, hingga penularan HIV.

Selamat  Hari Anak Nasional

 

 

Oleh : Achmad Mujoko

 

No Comment

Comments are closed.