batman

Keluarga Berencana untuk LGBT? Bagaimana bisa? Pasti sobat bronis bertanya-tanya apa hubungannya KB dengan LGBT? Kali ini Brondongmanis akan coba menelaah kaitan antara KB dengan LGBT. Mungkin kita awalnya mengira bahwa KB adalah “dua anak cukup”. Itu benar, di Indonesia. Namun, kita akan membahas KB secara general.

KB merupakan sebuah program internasional terkait kependudukan yang hadir untuk merespon tingginya angka kependudukan di dunia agar kehidupan di dunia semakin berkualitas. Mungkin sobat bronis akan bertanya, kan LGBT tidak bisa melahirkan atau tidak bisa memiliki keturunan. Bisa “Ya” untuk negara maju, dan “Tidak” untuk negara berkembang. Namun tidak melulu KB didefinisikan sebagai bentuk mengatur kelahiran dan kehamilan. Program KB merupakan program yang komprehensif menyentuh berbagai elemen kehidupan manusia. Misalnya kondom, kondom merupakan alat kontrasepsi multifungsi, ia bisa mencegah kehamilan sekaligus mencegah penularan HIV dan IMS.  Tujuan penggunaan kondom ini bukan hanya sekedar yang telah disebutkan, namun lebih dalam lagi; agar manusia bisa hidup secara berkualitas.

Tujuan keluarga berencana dalam tujuan memastikan agar setiap manusia dapat hidup dengan berkualitas juga menjadi tanggung jawab program keluarga berencana. Karena penyediaan keluarga berencana juga harus inklusif, tidak memandang siapa yang menggunakannya, namun sejauh ia membutuhkan metode Keluarga Berencana, maka ia berhak untuk mendapatkannya. Di Indonesia dan negara-negara berkembang penyediaan alat kontrasepsi yang inklusif mungkin masih sangat minim. Jika di negara-negara maju termasuk Amerika telah menyediakan keluarga berencana pada kaum minoritas termasuk LGBT dalam bentuk misalnya penyediaan metode kehamilan bagi pasangan Gay dan Lesbian. Di Indonesia disayangkan metode ini belum bisa diterima—karena kita tahu di Indonesia memang belum mengijinkan perkawinan sesama jenis.

Selain dalam bentuk pengendalian kehamilan. Komponen Keluarga Berencana yang bersifat Multi Component Approach atau pendekatan yang menyeluruh juga masih menjadi masalah. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa KB bukan hanya dilihat sebagai alat pengatur kehamilan, namun bagaimana setiap elemen yang mempengaruhi kesejahteraan juga disasar. Salah satunya adalah hormonal karena KB juga mengatur pada hormonal. Hormonal bagi teman-teman transgender di negara yang progresif telah disediakan oleh negara. Namun berbeda dengan negara konservatif seperti Indonesia yang bahkan penyediaan hormonal bagi teman-teman transgender masih dalam bentuk “sembunyi-sembunyi”. Yang padahal sembunyi-sembunyi dalam penggunaan hormonal terlebih lagi tanpa rekomendasi dokter dapat menimbulkan permasalahan kesehatan bagi transgender hingga dampaknya pada kematian. Ini artinya tujuan utama Keluarga Berencana telah gagal memastikan bahwa setiap manusia berhak menjadi individu yang berkualitas. Bukan hanya untuk LGBT, untuk remaja sendiri penyediaan kondom masih sangat diskriminatif. Misalnya di Bengkulu yang mengabarkan bahwa pembelian kondom harus disertakan dengan KTP berstatus Kawin.

Kita lagi-lagi tidak bisa mendeskreditkan kepentingan terbaik bagi komunitas. Mungkin untuk teman-teman yang masih non-LGBT dan berpandangan kontra terhadap LGBT menganggap bahwa KB adalah bentuk konspirasi barat. Yang padahal tidak seperti itu, penyediaan KB untuk waria adalah bentuk pencegahan risiko terburuk. Misalnya kita tidak bisa mencegah remaja berhubungan seks, namun cara terbaik adalah dengan menyediakan informasi dan menyediakan metode agar remaja tidak mendapat dampak terburuk.

 

Oleh : Achmad Mujoko

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.