k01Pekerja seks adalah orang yang bekerja dan mendapatkan uang dari jasa seks yang ditawarkan. Disini, Brondongmanis tidak menggunakan definisi Pekerja Seks Komersial ( PSK ) karena pada dasarnya, semua pekerjaan adalah komersial termasuk pekerja seks. Pekerja seks ini dilakukan oleh baik perempuan, laki-laki, maupun waria. Mungkin kita sudah biasa mendengar pekerja seks perempuan dan waria, namun masyarakat umum sepertinya masih asing dengan pekerja seks laki-laki. Mungkin tidak bagi teman-teman LGBT. Ingat ya guys, pekerja seks juga merupakan bentuk pekerjaan, sama seperti menjadi penjual martabak, guru, atau bahkan menteri. Bedanya adalah objek yang dijual, jika guru menjual ilmunya, tukang martabak menjual martabaknya, sementara pekerja seks menjual jasa seksnya.

Pekerja seks laki-laki dulunya diistilahkan dengan definisi gigolo, namun terdapat penghalusan istilah atau ameliorasi pekerja seks laki-laki menjadi Escort. Tapi semakin kesini, istilah Escort semakin direndahkan dan di ubah lagi menjadi definisi “kucing” oleh masyarakat dan teman-teman LGBT. Pernah beberapa waktu, Brondongmanis melakukan diskusi dan candaan dengan teman-teman Gay, Biseksual, dan Transgender atau GBT mengenai “kucing”. Kucing bagi teman-teman GBT mungkin berbeda dengan kucing bagi teman-teman heteroseksual. Ada sebuah lelucon, “kucing kaki dua atau kucing kaki empat?”. Kucing kaki empat mengidentifikasikan kucing dalam arti yang sesungguhnya (hewan), sementara kucing kaki dua mengidentifikasikan escort atau pekerja seks laki-laki. Ingat teman-teman, jangan kita memanggil pekerja seks laki-laki sebagai “kucing”, karena pekerja seks laki-laki juga manusia bukan hewan. Gak mau kan kalau sobat bronis tiba-tiba dipanggil gajah atau sejenisnya? Karena pekerja seks juga manusia ya. Sobat, manusia termasuk pekerja seks juga memiliki hak asasi yang patut kita hargai.

Biasanya, konsumen escort boy adalah laki-laki, namun tidak memungkiri konsumen atau pelanggannya adalah perempuan. Tergantung dimana ia menjajakan diri. Biasanya, pekerja seks menjajakan dirinya di aplikasi online seperti Grindr, Jack’d, dan sebagainya. Tarif yang ditawarkanpun berbeda-beda, mulai dari tarif Rp 200.000 hingga Rp 5.000.000 per malam. Perbedaan tarif ini sesuai dengan kualitas pelayanan yang diberikan oleh pekerja seks, mulai dari wajah, tubuh kekar, hingga ukuran penis. Oh iya, dan biasanya escort boy memiliki role menjadi versatile atau bisa dipenetrasi dan bisa juga melakukan penetrasi. Perlu sobat bronis ingat, perilaku seksual dan orientasi seksual berbeda ya. Ada escort boy yang memang memiliki perilaku seksual atau ketertarikan seksual dengan laki-laki, namun memiliki orientasi seksual heteroseksual. Karena pekerja seks ini adalah tentang perilaku seksual.

Perlu diketahui juga, bahwa menjadi pekerja seks adalah sebuah fakta sosial. Pekerja seks ada karena adanya kebutuhan akan seks. Seperti layaknya guru, guru ada karena adanya kebutuhan pendidikan. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pekerja seks mampu bernegosiasi dalam harga dan keamanan, mampu bertahan pada pendiriannya, dan melakukan seks yang aman. Karena pekerja seks diidentifikasikan sebagai populasi yang beresiko menularkan dan tertular IMS dan HIV. Buat sobat Bronis yang menjadi pekerja seks atau pelanggan pekerja seks, penting banget buat memperhatikan keamanan ketika berhubungan seks.

 

Oleh : Achmad Mujoko

Referensi :

https://crazygays.wordpress.com/2015/04/01/pekerja-seks-laki-laki/

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.