“Pancasila; 1) Ketuhanan yang maha Esa, 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3) Persatuan Indonesia, 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

KUL

Negara melalui Pancasila dan UUD 1945 telah menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan keadilan sosial. Sejauh ia adalah warga negara Indonesia. LGBT juga merupakan manusia yang memiliki hak yang sama dengan warga negara lain. Faktanya, negara acap kali untuk memastikan keadilan untuk setiap warga negara, dan mungkin juga sobat bronis alami. Banyak keadilan-keadilan yang juga LGBT butuhkan, kali ini Brondongmanis akan menelisik keadilan yang LGBT butuhkan, dan membandingkan dengan realitas yang ada.

Keadilan Mengakses Pendidikan

Faktanya, hanya ada 1 waria di Jakarta yang telah menyelesaikan bangku S1nya (SWARA; 2014). Hal yang sangat miris yang mengindikasikan bahwa pendidikan bagi LGBT masih sangat minim. Ketika negara memperjuangkan pendidikan 12 tahun bagi selurut rakyat Indonesia. Namun negara lupa bahwa pendidikan juga dibutuhkan oleh teman-teman transgender. Masih tingginya diskriminasi di sekolah terhadap LGBT sendiri membuat LGBT enggan untuk bersekolah. Diskriminasi bukan hanya terjadi dari teman-temannya, namun juga dari guru dan sekolah. Pernah Brondongmanis melakukan penelusuran mengenai kasus diskriminasi terhadap gay. Seorang gay di salah satu sekolah negeri di Jakarta mendapatkan tindak kekerasan dari gurunya, bahkan guru bimbingan konseling (BK) yang seharusnya menjadi guru yang memahami psikologis anak justru menganjurkan anak untuk menjadi “normal” dan menceramahi anak dengan moral-moral keagamaan. Padahal, pendidikan merupakan komponen penting bagi manusia untuk menjadi manusia seutuhnya, dan hal itu juga dibutuhkan oleh LGBT.

Keadilan Mengakses Pekerjaan

Keadilan lain yang juga dibutuhkan oleh LGBT adalah pekerjaan. Acap kali, LGBT mengalami ketidakadilan dalam pekerjaan. Misalnya waria, menurut sobat Bronis, apa pekerjaan untuk waria? Apa di benak sobat bronis adalah salon, ngamen, atau pekerja seks. No! seharusnya, waria juga bisa bekerja di ranah publik, mulai dari guru, akuntan, tukang martabak, bahkan menteri. Pekerjaan yang ditekuni oleh waria sendiri disebabkan karena masyarakat mendorong atau menstigma waria tidak bisa melakukan hal selain salon, ngamen, atau seks. Padahal faktanya bisa, di negara-negara maju, waria bisa juga menjadi senator atau bahkan psikolog.

Bukan hanya untuk waria, kadang akses pekerjaan untuk LGBT juga dibatasi melalui ekspresi gender. Dalam ranah pekerjaan sebagai guru misalnya, guru laki-laki yang memiliki ekspresi kemayu juga ternyata mendapatkan stigma dari lingkungan ia bekerja. Menjadikan pekerjaan bukan menjadi hal yang menyenangkan, namun justeru membuat teman-teman LGBT menjadi terpuruk.

Keadilan Mengakses Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam kehidupan manusia, termasuk LGBT. Keadilan atas kesehatan bukan hanya dibutuhkan oleh “orang sakit”, namun juga untuk setiap orang termasuk LGBT. Namun, lagi-lagi, masih banyak sekali ketidakadilan yang dialami oleh LGBT. Jika kita melihat KTP kita, hanya ada dua gender yang diakui oleh negara, laki-laki dan perempuan. Apa implikasinya pada kesehatan? Kebutuhan kesehatan laki-laki, perempuan, dan transgender akan sangat berbeda. Jika kebutuhan kesehatan transgender disamakan dengan kebutuhan kesehatan laki-laki atau perempuan, akan menyebabkan permasalahan pada kesehatan transgender itu sendiri.

Selain itu, diskriminasi ketika mengakses layanan kesehatan juga banyak dialami teman-teman LGBT. Misalnya ketika tes VCT, mungkin pernah sobat bronis diceramahi oleh konselor karena perilaku seks sobat bronis. Bagaimana bisa angka HIV dan IMS ditekan jika layanan kesehatan masih diskriminatif terhadap LGBT.

Sebenarnya masih banyak krbutuhan atas keadilan yang juga dibutuhkan oleh teman-teman yang LGBT yang faktanya teman-teman LGBT masih sangat sulit untuk mendapatkan keadilan yang diinginkan. Ada yang bisa Sobat lakukan, yang perlu Sobat Bronis lakukan bukanlah diam, namun take action. Karena diam bukanlah jawaban. Brondongmanis ingat quote dari Pramoedya Ananta. T  yaitu “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. First thing to do is, kita bersikap adil dengan teman-teman LGBT dan sesama manusia.

Oleh : Achmad Mujoko

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.