bronis-18

Kemerdekaan /ke·mer·de·ka·an/ (n) keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya); kebebasan

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa kemerdekaan adalah kondisi dimana sesuatu dapat berdiri sendiri atau bebas dari penjajahan. Bagi brondongmanis sendiri, kemerdekaan adalah suatu kondisi dimana kita mendapatkan hak kita secara penuh tanpa adanya diskriminasi. Mungkin sobat bronis punya definisi sendiri mengenai kemerdekaan.

Indonesia sendiri telah merdeka dari penjajah dan independen sebagai sebuah negara yang utuh sejak tanggal 17 Agustus 1945. Merdeka bukan hanya tentang bebas dari penjajah asing. Merdeka juga harus didefinisikan sebagai merdeka dari internal bangsa sendiri. Kita harus bebas mendapatkan hak kita tanpa adanya jajahan-jajahan dari kelompok-kelompok yang mendominasi.

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur” Pembukaan UUD 1945 Alinea ke-2

Pembukaan UUD 1945 sendiri telah tegas menjelaskan bahwa pergerakan kemerdekaan Indonesia baru mencapai Pintu Gerbang Kemerdekaan yang artinya Indonesia sebenarnya belum benar-benar merdeka. Mencapai kemerdekaan adalah sebuah proses panjang, dimana setiap unsur negara harus berkontribusi aktif dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan hakiki. Karena memang, Indonesia belum merdeka secara hakiki ketika kita menengok pada permasalahan-permasalahan yang muncul di Indonesia.

Bahkan lebih parahnya lagi, meskipun telah 71 tahun Indonesia merdeka. Kemerdekaan ini belum tercermin betul pada warga negara minoritas, termasuk LGBT.

Kasus-kasus ketidak merdekaan yang dialami LGBT sangat bertubi-tubi menimpa kelompok yang hidup di bangsa merdeka ini. Hingga pada kasus terbaru adalah kemerdekaan berkelompok yang dicekal oleh organisasi ekstrim.

Kasus ketidakmerdekaan terjadi di pesantren waria Yogyakarta. Pondok Pesantren untuk waria Al-Fatah di Bantul, Yogyakarta, akhirnya ditutup paksa oleh aparat pemerintah setempat karena dianggap tidak berizin dan meresahkan warga setempat. Pemaksaan penutupan ini karena gugatan dan konfrontasi yang dilakukan oleh Front Jihad Islam. Mereka menganggap bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Al-Fattah meresahkan warga. Padahal kegiatan yang dilakukan adalah mengaji dan belajar sholat seperti umat Islam lainnya. Ini artinya masih ada ketidakmerdekaan kelompok waria bahkan untuk beribadah sekalipun.

Ditambah lagi, homoseksual akan dikriminalisasikan melalui Judicial Review kepada Mahkamah Konstitusi oleh Aliansi Cinta Keluarga (AILA) pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa perilaku homoseksualitas bisa dipenjara dengan maksimal kurungan 5 tahun penjara.

Kejadian tersebut memperlihatkan adanya sebuah ketidakmerdekaan LGBT dalam memperoleh lingkungan yang aman. Bukan hanya lingkungan yang aman, teman-teman LGBT terpaksa menjadi pekerja seks karena minimnya pendidikan yang mereka dapatkan. Lagi-lagi, ini merupakan sebuah ketidakmerdekaan yang tersistematisasi. Karena kejadian-kejadian tersebut sebenarnya juga dilandasi oleh hukum yang memandang sebelah mata kelompok LGBT.

 

Oleh : Achmad Mujoko

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.