Sedari kecil cara kita berbicara, berpakaian, makan, dan hal lain-lainnya telah diatur oleh lingkungan kita, terutama tentu saja kedua orang tua kita. Penentuan ini biasanya dilihat dari jenis kelamin yang dimiliki oleh masing-masing individu tersebut. Misalnya seseorang yang terlahir dengan memiliki penis, maka akan secara otomatis dididik untuk menjadi laki-laki. Diajarkan untuk menjadi maskulin dan pelindung bagi perempuan. Dan hal-hal lainnya yang diatributkan dengan menjadi laki-laki, disematkan kepada orang tersebut. Namun pada kenyatannya ketika melihat gender itu sendiri, masing-masing orang misalnya yang terlahir memiliki penis belum tentu nyaman untuk bersikap maskulin. Gender menjadi laki-laki atau perempuan adalah konsep kesepakatan mayoritas yang cenderung pada akhirnya mendiskriminasi individu-individu yang memutuskan untuk menjadi transgender baik dari laki-laki ke perempuan atau sebaliknya.

 

Para transgender dianggap aneh dan tidak wajar karena dianggap menentang kodrat tubuhnya. Namun, pada kenyataannya hal tersebut tidak semudah itu untuk hanya sekedar melihat kodrat bahwa laki-laki harus maskulin dan perempuan harus feminin. Manusia terlahir ke bumi tidak mengenal apa-apa, semua terlihat kosong apa adanya. Apa yang menjadi kebenaran sebenarnya adalah kebiasaan yang telah dilakukan terus-menerus hingga akhirnya dianggap benar. Pada kenyataanya, memahami konteks sosial kehidupan bisa beragam dan tergantung bagaimana melihatnya. Karena setiap individu memiliki perspektif dalam melihat sesuatu. Sehingga, perlu untuk melihat setiap individu memiliki peran aktif dalam penentuan jati dirinya. Apakah ingin menjadi pria atau perempuan atau bahkan non-biner. Non biner itu sendiri adalah seseorang yang mengidentifikasikan dirinya menjadi laki-laki dan perempuan atau bukan keduanya. Maka, kemerdekaan individu ini harus dipenuhi dengan adanya pengetahuan yang cukup dan kenyamanan masing-masing individu ingin menamakan dirinya apa.

 

Pemenuhan hak-hak ini menjadi krusial, mengingat begitu seringnya kita melihat atau mendengar kasus-kasus kekerasan yang terjadi terhadap transgender. Karena ekspersi gendernya yang cukup terlihat berbeda. Diskriminasi sering kali terjadi dan biasanya hanya melihat transgender dari kacamata yang sempit. Sehingga, nilai-nilai kemanusiaan sering hilang. Padahal, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, layanan kesehatan dan mendapatkan pekerjaan. Perubahan konsep yang mendasar untuk melihat gender bukan hanya hitam dan putih akan mengurangi diskriminasi terhadap mereka. Dan pada akhirnya bisa memberikan kesempatan kepada transgender untuk dapat mengakses hak-haknya sebagai warga negara Indonesia.

 

Oleh : Fai

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.