HAK KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI PADA REMAJA

Pernahkah Sobat Bronis menjumpai sepasang kekasih yang masih belia dipaksa menikah karena si wanita hamil atau dikarenakan orientasi seksualnya berbeda? Atau kekerasan seksual yang terjadi di sekitar. Ya, banyak fenomena yang menunjukkan bahwa anak muda di Indonesia masih belum mendapatkan pendidikan seks yang tepat dan memahami tentang kesehatan reproduksi remaja terutama pada remaja GWL yang masih mendapatkan Stigma dan Diskriminasi di layanan kesehatan yang membuat mereka enggan untuk memeriksakan kesehatan seksual dan reproduksinya.

Padahal baik secara internasional maupun nasional sudah diatur tentang masalah ini. Ada hak-hak kesehatan reproduksi untuk remaja, yang baru sebatas aturan dan belum terealisasi. Lambannya penerapan ini karena kekurangtahuan remaja sendiri. Untuk itu berikut sejumlah hak kesehatan reproduksi yang perlu Sobat Bronis ketahui.

  1. Hak Mendapatkan Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi
    Layanan ini lebih banyak dijumpai untuk pasangan suami istri (Pasutri) dan masih ada beberapa layanan kesehatan yang masih menggangap orientasi seksual di luar dari heteroseksual yang berbeda sebagai perilaku yang menyimpang. Padahal remaja juga sangat perlu pelayanan khusus terkait organ reproduksinya. Sobat Bronis punya hak untuk berkonsultasi, memeriksa dan merawat organ reproduksinya dengan bebas dan tanpa intimidasi.

Begitu juga penyebaran pendidikan seks yang belum menyeluruh yang diterapkan dari dini. Ini terlihat dari meningkatnya perilaku seks bebas dikarenakan rasa ingin tahu, kehamilan di luar nikah, penyebaran virus HIV dan sebagainya. Remaja butuh media khusus untuk ini, agar lebih bijak bertindak dan mendapatkan info tanpa diskriminasi.

  1. Perkawinan Remaja, remaja yang hamil di luar nikah dipaksa untuk menikah, padahal hal ini sudah dilarang. Berdasarkan aturan internasional paksaan tersebut akan memperburuk mental anak dan bisa makin merusak masa depannya.
  2. Kekerasan Seksual, Sobat Bronis berhak mendapatka rasa aman dari ancaman atau ketakutan terkait kekerasan seksual. Remaja bisa melakukan tuntutan secara hukum karena hak ini dilindungi negara.

Lebih jelasnya Sobat Bronis bisa mencari di internet bunyi masing-masing poin dari pemenuhan hak kesehatan reproduksi untuk remaja. Kita perlu tahu hal ini agar paham bahwa pemegang kendali atas tubuh kita adalah diri sendiri. Remaja perlu memperjuangkan hak-haknya agar tak jadi korban kekerasan dan pemaksaan. Namun, tetap wajib diingat bahwa disamping hak ada kewajiban yang juga wajib dilakukan. Remaja juga harus menghormati dan tak melanggar hak milik orang lain.

Dibuat Oleh : Firman

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.