Sobat Bronis, Abuse dalam bentuk fisik, verbal, maupun emosional, dapat meninggalkan luka yang susah disembuhkan melebihi luka fisik biasa. Korban pelecehan akan merasa kesulitan untuk mengatasi perasaan tertekan. Dan aura negatif masih akan mengganggu mereka lama setelah pelecehan tersebut berakhir. Kemampuan mereka untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup juga mungkin akan terpengaruh.

Kenangan yang menyedihkan, kecemasan, menolak pergaulan yang lebih intim, dan masalah kepercayaan biasa terjadi pada orang-orang yang pernah mengalami pelecehan, walaupun banyak yang mampu mengatasi atau meminimalkan tantangan seperti ini dengan bantuan ahli profesional.

Semua bentuk abuse akan menyebabkan luka dan gangguan psikologis. Tidak sedikit para korban pelecehan mengalami lebih dari satu tipe abuse. Seseorang yang mengalami pelecehan seksual mungkin juga mengalami pelecehan emosional. Pelecehan dapat terjadi dalam setiap hubungan, meskipun itu hubungan positif, seperti hubungan famili, profesional, atau sosial. Namun pelecehan juga dapat terjadi di antara orang asing.

Bentuk paling umum dari abuse adalah abuse of power, penyalahgunaan kekuatan, misalnya berusaha mengontrol atau memanipulasi kebiasaan orang lain. Abuse emosional atau psikologis  mencakup pola kritik, pemaksaan, penghinaan, atau ancaman terhadap keselamatan fisik seseorang. Penolakan pertemanan saat  masa kecil juga merupakan bentuk abuse secara psikologis.

Segala bentuk pelecehan dalam hubungan intim, dari fisik ke psikologis, merupakan bagian dari kekerasan terhadap pasangan. Faktanya, abuse secara psikologis muncul di hampir setiap kasus agresi fisik antara pasangan intim dan seringkali merupakan awal mula dari kekerasan fisik.

Sementara pelecehan dalam bentuk apapun dapat berdampak negatif pada kehidupan seseorang, masalah emosional atau psikologis yang signifikan tidak harus dihasilkan dari setiap kasus pelecehan. Tingkat keparahan psikologis dapat bervariasi tergantung pada banyak faktor, seperti seberapa kenal korban dikaitkan dengan orang yang melakukan pelecehan dan apakah penyalahgunaan itu diketahui atau dihentikan oleh teman dan keluarga korban.

Anak-anak yang telah mengalami pelecehan seksual, psikologis, atau fisik sering mengalami kesulitan emosional yang dapat mempengaruhi kinerja akademis dan kehidupan sosial mereka. Bagi orang dewasa, orang yang selamat dari pelecehan mungkin mengalami kesulitan dalam menjalin relasi dengan rekan dan produktivitas di tempat kerja. Korban pelecehan, yang memiliki risiko tinggi mendapat  gangguan mental seperti depresi, harus melawan satu atau lebih masalah psikologis seperti ini:

Rasa Cemas: Orang yang pernah mengalami abuse mungkin takut pada orang atau situasi yang mengingatkan akan pengalaman pelecehan mereka. Mereka mungkin takut sendirian, takut pada orang asing, atau takut akan keintiman seksual, tergantung pada sifat pelecehan yang mereka alami. Gangguan tidur, perilaku kompulsif, serangan panik, dan indikasi kecemasan lainnya sangat umum terjadi pada orang yang selamat dari pelecehan.

Kemarahan: Korban pelecehan akan merasa sangat marah terhadap pelaku, pada mereka yang mengetahui tentang pelecehan tersebut tapi tidak membantu, dan bahkan pada diri sendiri, terutama bila mereka yakin mereka mampu mencegah atau seharusnya menghentikannya. Amarah adalah respon alami setiap korban. Karena itu manajemen amarah sangat penting sebagai bagian dari proses penyembuhan.

Disosiasi: Tidak peka, mati rasa, kebingungan, dan pengalaman out-of-body dapat terjadi selama atau setelah pelecehan berlangsung. Hal ini untuk membantu korban menghindari rasa sakit dan ketakutan aman peristiwa tersebut. Dalam kasus yang jarang terjadi, memori akan abuse dapat ditekan bahkan dihilangkan dari korban.

Masalah Mood: Depresi, mudah tersinggung, dan gampang mengalamai perubahan suasana hati adalah hal yang sering dijumpai dari banyak korban abuse.

Stress Pasca Trauma (PTSD): Mimpi buruk, flashback, dan gejala PTSD lainnya mungkin terjadi. Korban selamat cenderung menghindari situasi dan kondisi tertentu yang mengingatkan mereka akan pelecehan tersebut.

Rasa Malu: Perasaan bersalah dan malu sering dialami oleh korban yang percaya bahwa mereka pantas mendapatkannya, bertanggung jawab atas hal itu, atau gagal menghentikannya. Melawan keyakinan dalam terapi dapat membantu korban menghilangkan perasaan ini.

Perilaku Merusak Diri Sendiri: Terkadang korban akan melakukan “pengobatan” sendiri, dengan obat-obatan atau alkohol misalnya, atau melukai diri sendiri, seperti mengiris nadi.

Isu Kepercayaan: Belajar memercayai orang lain setelah mengalami abuse adalah hal yang sulit. Apalagi menyangkut relasi yang mengarah semakin intim.

Sobat Bronis, Terapi dapat menolong korban mengekspresikan emosi yang terkait dengan abuse, dan yang paling penting belajar untuk bangkit. Banyak pendekatan terapi dapat bermanfaat bagi mereka yang pernah mengalami pelecehan, mulai dari terapi naratif hingga desensitisasi gerakan mata dan pemrosesan ulang (EMDR). Selain itu, terapi dapat menggunakan teknik kesadaran, seperti meditasi, atau teknik eksperiensial seperti penggabungan kegiatan seni dan jurnal.

Terapi kelompok terbukti efektif dalam memberikan dukungan sosial untuk membantu korban pelecehan mengatasi dan mengubah perasaan malu, bersalah, dan keterasingan mereka dari orang lain karena mereka berinteraksi dan terikat dengan orang lain yang mengalami pengalaman serupa. Bagi mereka yang takut membuka diri di depan banyak orang, bercerita sendiri dengan sang terapis bisa menjadi pengalaman yang lebih intim dan personal. (NFD)

 

Sumber: https://www.goodtherapy.org/learn-about-therapy/issues/abuse

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.