Sobat Bronis, Tahun 2017 kemarin, ada serial televisi yang keren banget berjudul The Handmaid’s Tale, yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Margaret Atwood tahun 1985. Ceritanya tentang negeri distopia penganut paham teokrasi dan dipimpin oleh diktator fundamentalis. Di negeri tersebut para perempuan diculik dan dipisah dari keluarganya untuk dijadikan handmaid (asisten rumah tangga). Para handmaid ini tidak memiliki kebebasan atas tubuh mereka sendiri. Pada saat masa reproduksi sedang subur, mereka harus merelakan tubuh mereka menjadi objek seksual majikan pria demi mendapatkan keturunan. Bahkan proses hubungan seksual itu dilakukan di hadapan majikan perempuan! Ketika sang handmaid berhasil hamil dan melahirkan, saat itu juga dia kehilangan hak atas anak mereka. Bayi yang baru lahir itu langsung menjadi milik majikan. Sebuah dunia yang mengerikan.

Untunglah kita hidup di Indonesia yang menjunjung hak asasi manusia. Negeri kita juga mengakui hak kesehatan seksual dan reproduksi. Kesehatan seksual didefinisikan sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan seksualitas. Merasakan kenikmatan seksual dan hubungan seks yang aman tanpa paksaan dan kekerasan merupakan salah satu bagian dari hak kesehatan seksual. Sedangkan kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya. Maka jika organ reproduksi mampu berfungsi dengan baik, bisa menentukan apakah mau memiliki anak atau tidak, jumlah anak dan jarak antar anak yang dilahirkan, serta memilih alat kontrasepsi yang diinginkan tanpa adanya paksaan, orang tersebut bisa dikatakan sehat reproduksi.

Ada 12 hak kesehatan seksual dan reproduksi yang perlu kita ketahui:

  1. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan.
  2. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksinya.
  3. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi.
  4. Hak atas kerahasiaan pribadi berkaitan dengan pilihan atas pelayanan dan kehidupan reproduksinya.
  5. Hak kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi.
  6. Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi.
  7. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga.
  8. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak.
  9. Hak mendapat pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi.
  10. Hak mendapatkan manfaat kemajuan, ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
  11. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
  12. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual.

Kita perlu mengenal dan memahami Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi ini, agar kita bisa melindungi, memperjuangkan, dan membela hak kesehatan seksual dan reproduksi kita dan orang lain dari berbagai tindak kekerasan dan serangan. Termasuk paksaan dan hal-hal yang merugikan diri kita.

Dari 12 hak tersebut, kita bisa menyarinya menjadi 5 hal pokok, yaitu:

  1. Hak untuk mendapatkan informasi.
  2. Hak untuk menjadi diri sendiri.
  3. Hak untuk dilindungi dan melindungi.
  4. Hak untuk mendapatkan layanan yg komprehensif.
  5. Hak untuk terbebas dari diskriminasi dan stigma.

Kita harus terus memperjuangkan hak-hak asasi kita di mana pun kita berada. Terutama hak atas tubuh kita, agar dunia yang difantasikan Margaret Atwood melalui bukunya tidak terjadi di negeri kita tercinta. (NFD)

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.