Apa sih auto imun itu?

Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuh sendiri. Normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. Sebagai benteng pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh berfungsi melawan dan menghancurkan zat-zat asing yang masuk ke tubuh dan membahayakan tubuh, seperti bakteri dan virus. Namun, ada kalanya sistem kekebalan tubuh itu mengalami
gangguan dan penyimpangan fungsi, sehingga keliru menyerang sel-sel tubuh itu sendiri. Nah kondisi inilah yang disebut dengan autoimun.

Autoimun itu disebabkan oleh apa?

Sejauh ini, belum ada yang bisa menemukan penyebab pastinya apa, tapi ada beberapa hal yang biasanya menjadi awal dari autoimun.

  1. Genetik atau keturunan. Salah satu faktor risiko penyakit autoimun adalah genetik, artinya ada kecenderungan seseorang mengalami penyakit autoimun, jika dalam keluarganya terdapat salah seorang pengidap autoimun Рnamun bukan berarti penyakit ini pasti akan diturunkan dari orang tua kepada anaknya.
  2. Lingkungan, termasuk gaya hidup tidak sehat, misalnya terpapar berbagai zat kimia.
  3. Hormon. Terdapat asumsi bahwa penyakit autoimun terkait dengan perubahan hormon, seperti saat hamil, melahirkan, atau menopause.
  4. Infeksi. Gejala autoimun juga dapat dipicu atau diperburuk infeksi tertentu.

Apa gejalanya?

Penyakit autoimun bisa berdampak pada banyak bagian tubuh. Ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun, mulai dari yang ringan sampai berat. Karena sangat beragam, maka gejalanya pun bervariasi.
Namun, beberapa penyakit autoimun memiliki gejala-gejala yang sama. Itu sebabnya autoimun sering disebut sebagai penyakit dengan seribu wajah.

  1. Nyeri di sekujur tubuh. Nyeri yang membuat badan seperti ditusuk-tusuk.
  2. Nyeri sendi. Bagian sendi yang paling sering diserang adalah sendi lutut, sendi di pergelangan tangan, punggung tangan hingga buku-buku jari. Nyeri ini terjadi di kedua sisi kiri dan kanan. Nyeri ini juga sering diiringi pembengkakan dan/atau kekakuan, sehingga membuat sangat kesakitan dan sulit bergerak.
  3. Fatigue, yakni rasa lelah berlebihan dan berkepanjangan, seperti habis berlari jauh, membuat energi tubuh seperti terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat badan dari tempat tidur saja terasa berat.
  4. Timbul demam ringan. Bila dipegang oleh orang lain, badan akan terasa agak hangat, namun ketika diperiksa dengan termometer, suhunya masih normal (pada batas atas), sekitar 37,4 – 37,5 derajat Celsius.
  5. Rambut mengalami kerontokan parah.
  6. Sering terkena sariawan.
  7. Brain fog. Disebut demikian karena otak sewaktu-waktu seperti tertutup kabut, sehingga untuk sesaat kehilangan memori, fokus, dan konsentrasi, entah saat sedang menulis maupun saat berbicara.

Penyakit autoimun yang paling sering ditemukan

1. Arthritis

Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang sering ditemui. Sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi yang menyerang pelapis sendi. Akibat dari serangan antibodi ini adalah peradangan, pembengkakan, dan nyeri pada sendi. Reaksi radang yang parah juga bisa menimbulkan kerusakan pada bagian tubuh lain, seperti kulit, mata, dan paru-paru.

2. Lupus

Penyakit autoimun lainnya yang sering kita dengar adalah systemic lupus erythematosus (SLE), atau biasa kita sebut dengan lupus saja. Penyakit ini menyebabkan terbentuknya antibodi yang justru menyerang hampir seluruh jaringan tubuh penderitanya. Beberapa bagian tubuh yang paling sering diserang adalah sendi, paru-paru, ginjal, kulit, jaringan penyambung tubuh, pembuluh darah, sumsum tulang, dan jaringan saraf.

3. Diabetes tipe 1

Penyakit ini biasanya akan terdiagnosis sejak usia kanak-kanak atau dewasa muda. Penyakit diabetes tipe 1 disebabkan oleh serangan sistem kekebalan tubuh pada sel-sel pankreas yang memiliki tugas memproduksi insulin. Hal ini menyebabkan terganggunya produksi insulin sehingga tubuh tidak mampu mengontrol kadar gula darah.

4. Multiple sclerosis (MS)

Pada saat sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang sel-sel saraf sendiri, beberapa gejala yang mengerikan berisiko muncul sebagai akibatnya. Kondisi ini biasa disebut dengan multiple sclerosis alias MS. Beberapa gejala yang bisa timbul adalah nyeri, kebutaan, gangguan koordinasi tubuh, dan spasme otot. Gejala lainnya yang mungkin timbul adalah tremor, mati rasa di area tungkai, kelumpuhan, susah bicara, atau susah berjalan.

5. Penyakit Graves

Penyakit Graves adalah penyakit autoimun yang menyebabkan kelenjar tiroid menjadi terlalu aktif. Orang yang menderita penyakit ini kemungkinan akan mengalami beragam gejala yang bisa mengganggu kegiatan sehari-harinya. Kesulitan tidur, mudah tersulut emosi, berat badan turun tanpa sebab, dan mata menonjol adalah sebagian gejalanya. Gejala lain yang mungkin timbul adalah terlalu peka pada hawa panas, otot lemah, tremor (tangan bergetar) dan gangguan menstruasi.

6. Psoriasis
Psoriasis adalah kondisi terlalu aktifnya sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan kulit mengalami kondisi kronis. Kondisi ini disebabkan oleh salah satu sel darah dalam sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif, yaitu sel-T. Berkumpulnya sel-T di kulit merangsang kulit untuk tumbuh lebih cepat dari seharusnya.
Gejala psoriasis yaitu muncul bercak di kulit yang bersisik dan pengelupasan kulit yang meninggalkan lapisan berwarna putih mengkilap.

Auto imun dan ODHA

Orang Dengan HIV AIDS atau ODHA memiliki daya tahan tubuh yang relatif lebih lemah dibandingkan orang non ODHA. Karenanya, ODHA menjadi lebih rentan mengalami autoimun dan perlu lebih waspada dan disiplin menjaga pola hidup dan pola makan untuk selalu menjaga vitalitas tubuh dan kondisi kesehatan.

Apa yang harus dilakukan?

Selain menjaga pola hidup dan pola makan serta berolahraga teratur untuk menjaga kondisi kesehatan, siapapun perlu melakukan tes kesehatan secara berkala. Apalagi bagi ODHA, tes kesehatan secara teratur wajib dilakukan dengan disiplin,
sebagaimana disiplin meminum ARV untuk terus menekan jumlah virus.
Bila mencurigai terkena autoimun dengan gejala antara lain seperti di atas, cobalah memeriksakan diri ke dokter umum. Jika dokter umum mencurigai ada autoimun, tetapi belum tahu jenisnya, ia akan merujuk ke dokter yang lebih spesifik. Misalnya, AR dan Sindrom sjogren akan dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi atau konsultan alergi imunologi. Untuk jenis skleroris multipel, akan merujuk ke dokter spesialis saraf, dan bila dicurigai psoriasis akan dirujuk dokter spesialis kulit. Itulah sebabnya penting bagi siapapun untuk selalu rutin memeriksakan kesehatan agar bisa segera menindaklanjuti kondisi kesehatan apapun agar bisa terdeteksi dan diobati sejak dini.

 

Oleh: NQ

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.