Apakah kamu pernah denger istilah kekerasan dalam pacaran? Kalo, dating violence pernah denger ga? Sebagai anak muda yang tentu saja lagi jaman-jamannya membangun relasi percintaan, ada baiknya kita cari tahu tentang kekerasan dalam pacaran, supaya kita bisa membangun relasi yang sehat dan ga jadi pelaku kekerasan pada pacar kita yang tersayang.

Kekerasan dalam pacaran itu apa sih?

Kekerasan dalam pacaran ialah perilaku atau ancaman kekerasan pada pasangan dalam hubungan pacaran, ditujukan untuk mengontrol atau menyakiti pasangan.  

Bentuknya apa aja?

Kekerasan dalam pacaran bisa terjadi dalam bentuk teramati dan tersamar.

Bentuk kekerasan yang teramati antara lain:

  1. Kekerasan fisik, seperti memukul, menjambak, mendorong.
  2. Pemanfaatan (ekonomi), seperti mengambil uang atau fasilitas milik pasangan secara paksa. Termasuk juga dengan meminta kartu atm, serta password atau pin atm dan m-banking pasangan supaya bisa mengambil uang tanpa sepengetahuannya.

Bentuk kekerasan yang tersamar antara lain:

  1. Kekerasan psikologis, seperti mengancam, mempermalukan, memaksakan kehendak, memberi banyak aturan tanpa memikirkan perasaan pasangan, mengejek, mengecilkan, membatasi ruang gerak (posesif berlebihan). Pelaku kekerasan juga biasanya mengontrol dengan siapa pasangannya bergaul, dengan dan berbicara serta membatasi keterlibatan korban dengan orang lain dengan menggunakan kecemburuan untuk membenarkan tindakan pelaku.
  2. Kekerasan seksual, seperti memaksakan kehendak untuk berhubungan seksual dan tidak memperhatikan perasaan pasangan saat berhubungan seks. Bentuk lain dari kekerasan seksual dalam relasi pacaran yang banyak terjadi belakangan ini adalah revenge porn, alias menyebarluaskan foto pasangan dalam keadaan minim atau tanpa busana. Biasanya foto diminta dengan mengancam akan putus bila tidak diberikan lalu setelah foto dikirimkan, ia akan memeras pasangannya memenuhi keinginannya dengan ancaman menyebarluaskan foto atau video yang ia simpan itu.

 

Jumlah kasus

Dalam catatan tahunan Komnas Perempuan 2018, kekerasan dalam pacaran masuk dalam kategori kekerasan di ranah rumah tangga atau relasi personal. KDP ada di posisi kedua dengan angka sebesar 1.873 kasus (23%) setelah kekerasan terhadap istri (KTI) di peringkat pertama 5.167 kasus (54%), lalu kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 2.227 kasus (23%) dan sisanya kekerasan mantan suami, kekerasan mantan pacar, serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga.

Sayangnya belum ada perlindungan hukum bagi korban KDP dalam peraturan perundangan-undangan. Korban yang mengalami kekerasan fisik terpaksa harus melaporkan kasusnya sebagai tindak pidana penganiayaan biasa. Demikian juga korban yang mengalami kekerasan dalam bentuk lain seperti kekerasan psikologis, seksual dan ekonomi harus mencari dasar hukum dari peratura perundang-undngan umum lainnya. Satu-satunya undang-undang yang mengatur mengenai kekerasan terhadap perempuan, termasuk di antaranya kekerasan dalam relasi, adalah Undang-Undangan Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) No 23 tahun 2004.

Apakah pasangan kita atau kita sendiri adalah pelaku kekerasan dalam pacaran?

Ada baiknya mengamati potensi kekerasan pada pasangan, agar bisa ditangani sejak awal. Berikut ini beberapa ciri orang yang cenderung melakukan kekerasan:

  • Suka menyalahkan orang lain. Di awal pacaran, mungkin ia sering menyalahkan mantannya, saat sudah pacaran, kemungkinan ia akan menyalahkan pasangannya jika terjadi hal-hal yang tidak disukai.
  • Menuntut dimengerti, tapi sulit mengerti pasangan.
  • Merasa diri lebih dari pasangan.
  • Memperbesar hal kecil. Contoh: terlambat beberapa menit, membuatnya sangat marah dan cenderung berteriak atau memukul.
  • Cemburu tanpa dasar.
  • Cenderung kasar pada orang lain. Coba perhatikan bagaimana ia memperhatikan orangtua, saudara, teman, pembantu, dan pelayan restoran yang melayani kalian waktu kencan.

Apa sih penyebab kekerasan dalam pacaran?

Terdapat beberapa faktor resiko terjadinya kekerasan dalam pacaran, antara lain:

  • Pelaku memiliki “role model” pelaku kekerasan dan kemungkinan adalah korban kekerasan dalam keluarga di masa kecilnya.
  • Menganggap kekerasan sebagai hal yang biasa.
  • Pelaku dan korban kurang memiliki keterampilan komunikasi untuk mengatasi konflik.
  • Pelaku kurang bisa mengelola emosi dan korban terlalu bergantung pada pelaku sehingga enggan mengatakan tidak.
  • Batasan-batasan dalam hubungan tidak didefinisikan secara jelas.
  • Pelaku memiliki gejala gangguan kepribadian seperti borderline personality atau antisocial.

Apa bedanya kekerasan dalam pacaran dengan konflik biasa dalam relasi?

Konflik, perbedaan pendapat, dan pertengkaran merupakan hal yang wajar terjadi, bahkan diperlukan dalam hubungan yang sehat. Bedanya, pada hubungan yang sehat, seseorang akan menghargai pasangannya dan berusaha memperhatikan perasaan pasangan. Sehingga, ada dorongan untuk meminta maaf dan memaafkan dari kedua belah pihak, tidak hanya mempersalahkan satu pihak saja. Pada hubungan yang sehat, ada kesetaraan dalam pengambilan keputusan yang memperhatikan pendapat kedua belah pihak. Jadi, jika kesepakatan tidak terjadi, maka keduanya bergantian mengambil keputusan. Bahkan terkadang mereka sudah memiliki semacam peraturan tersendiri, misalnya: makan dimana ditentukan oleh kita, sementara pasangan menentukan mau nonton film apa. Perbedaan lainnya ialah, pada hubungan yang sehat tidak ada aksi saling menyakiti, baik dalam bentuk fisik, psikologis, ekonomi, maupun seksual.

Apa sih dampak KDP pada korban?

Dampak kekerasan pacaran bervariasi sesuai bentuk kekerasan yang dialami. Dalam kekerasan fisik, maka korban bisa mengalami memar atau luka. Selain dampak fisik, juga ada dampak psikis, seperti perasaan cemas, ekspresi murung, gejala depresi, gejala trauma, penurunan rasa percaya diri, berkembangnya pikiran negatif yang tidak rasional seperti self blaming dengan meyakini bahwa semua hal terjadi karena kesalahannya.

Dampak lainnya ialah, misalnya meningkatnya konsumsi alkohol atau obat terlarang sebagai pelarian dari kekerasan yang dialami atau terjadi karena paksaan pasangan, menurunnya produktivitas dalam bekerja atau belajar, serta menarik diri dari teman atau keluarga. Di samping dampak psikis, jika korban mengalami kekerasan seksual, maka dampak tambahan yang bisa terjadi antara lain: terpapar infeksi seksual menular, mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, hingga terpaksa melakukan aborsi yang bisa membuatnya terhenti dari pendidikan atau pekerjaan yang sedang dijalaninya. 

Kalo gitu, kenapa korban ga langsung keluar aja sih dari KDP yang dialaminya?

Mungkin kita bertanya-tanya saat melihat teman yang masih bertahan dengan pacarnya, padahal sering mendapatkan perlakuan kekerasan. Ada baiknya kita memahami alasan mengapa mereka masih bertahan.

Pertama, mereka memiliki “investasi” dalam hubungan. Sehingga akan berusaha mempertahankan hubungan meskipun mengalami kekerasan. Korban cenderung bertahan karena merasa sudah melakukan banyak hal untuk memperjuangkan relasi ini, baik dengan berkorban waktu, tenaga, maupun perasaan yang sudah dicurahkan untuk pasangan, sehingga sayang untuk memutuskan relasi itu begitu saja. Contoh investasi misalnya: sudah merencanakan untuk menikah, sudah diperkenalkan kepada keluarga besar, dan sudah pernah berhubungan intim.

Kedua, ada kemungkinan mereka takut dengan ancaman dari pacar. Misalnya, saat pacar mengancam akan menyebarkan rahasia ke muka umum, jika berani minta putus.

Ketiga, biasanya, saat seseorang sudah bergantung baik secara emosional maupun ekonomi, maka akan sulit mengakhiri hubungan. Biasanya, orang yang tergantung menjadi tidak percaya diri untuk menjadi lajang dan mengurus dirinya sendiri karena meyakini bahwa dirinya tidak akan mampu melakukannya sendiri.

Keempat, ia merasa takut dengan status single atau lajang. Rasa takut ini biasanya beriringan dengan pikiran bahwa dirinya tidak layak dicintai, setelah apa yang dialami dengan pacarnya. Bisa juga karena ia merasa tidak percaya diri dengan status single karena seolah tidak laku, ataupun karena tekanan teman sebaya yang suka mengejek bila tidak memiliki pasangan.

Terus, gimana cara tahu relasi kita mengandung kekerasan atau ga?

Berikut ini tips mewaspadai dan menghindari tindak kekerasan dalam pacaran di awal hubungan:

  1. Perhatikan perilaku pacar ke orang lain. Apakah ia kasar, sering mengejek, merasa diri lebih dari orang lain? Jika Ya, maka hati-hati, besar kemungkinan ia akan memperlakukan kamu seperti itu.
  2. Hargai diri dan pendapat kamu. Cinta memang terkadang memerlukan pengorbanan, tapi tidak selalu dan tidak dari kedua belah pihak. Jika pasangan tidak mempedulikan perasaan dan keadaan kamu, besar kemungkinan sebetulnya ia tidak mencintai kamu, sehingga tidak perlu diperjuangkan.
  3. Buat batasan. Sejak awal hubungan, tetapkan harapan tentang hubungan, termasuk batasan tentang hubungan intim dan kekerasan. Katakan tidak jika ada perlakukan yang menyakiti. Sekali melakukan kekerasan, biasanya intensitas dan frekuensi kekerasan akan meningkat. Bila sudah ada tanda kekerasan, segera cerita ke sahabat atau keluarga. Hindari memaksakan diri melakukan tindakan yang diminta pasangan jika melanggar batasan nilai pribadi atau norma sosial.
  4. Tetap habiskan waktu dengan diri sendiri, teman dan keluarga. Ada baiknya saat pacaran tidak dihabiskan 100% dengan pacar, karena akan membuat semakin tergantung dan semakin makin banyak investasi yang diberikan kepada pacar. Tetap jadi diri sendiri, punya rencana sendiri, habiskan waktu dengan teman dan keluarga.

Seberapa penting sih keluar dari KDP?

Dalam kebanyakan kasus kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, kekerasan biasanya bermula sejak dalam relasi pacaran alias berupa KDP. Karenanya jadi penting untuk kita untuk memahami ciri kekerasan dalam pacaran supaya kita bisa menghindari dan tidak melakukannya. Jadi kalaupun nanti melanjutkan hubungan dalam komitmen rumah tangga, relasi yang terbangun akan sehat dan bebas dari segala jenis KDRT.

Kalau kamu sendiri, apakah pernah kenal dengan seseorang yang mengalami kekerasan dalam pacaran? Atau, kamu sendiri pernah mengalaminya? Kalau ya, bagaimana caramu berhasil keluar dari kekerasan dalam pacarana? Yuk share pengalaman kamu di kolom komentar!

Kalo mau info lebih lanjut tentang kekerasan dalam pacaran, bisa akses website khusus dating violence berikut ini : thatsnotcool.com

 

Oleh: NQ

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.