Udah pernah denger istilah patriarki? Kalo istilah SGBV, udah pernah denger juga belom? Belakangan, ada beberapa aksi damai yang dilakukan oleh anak muda Jakarta dan bermacam daerah yang banyak bahas tentang kekerasan seksual karena banyaknya anak muda yang share pengalaman pelecehan dan kekerasan seksual baik saat naik transportasi kayak ojek online ataupun yang dilakukan oleh pacarnya sendiri. Dalam beberapa poster yang dibawa, ada banyak yang menyebutkan tentang Patriarki dan SGBV atau kekerasan berbasis gender dan seksualitas. Nah kali ini, kita akan bahas tentang dua hal itu, supaya kita jadi lebih update tentang isu kekerasan seksual yang banyak dialami anak muda ini.

Apa itu Patriarki?

Patriarki adalah sebuah sistem yang menganggap kaum laki-laki ditakdirkan untuk mengatur perempuan. Hal ini berlaku kokoh di seluruh dunia (Fromm dalam Adji dkk 2009: 9). Kemudian diperjelas oleh pendapat Walby (2014: 28), yang menyatakan bahwa patriarki adalah sebuah sistem struktur sosial dan praktik-praktik yang memosisikan laki-laki sebagai pihak yang mendominasi, menindas dan mengeksploitasi kaum perempuan. Penggunaan istilah struktur sosial untuk menunjukkan penolakan terhadap determinisme biologis dan gagasan bahwa setiap individu laki-laki berada pada posisi dominan dan setiap individu perempuan dalam posisi subordinat. Berdasarkan definisi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa patriarki adalah sistem sosial yang berlaku di dalam masyarakat yang melanggengkan dominasi laki-laki terhadap kaum perempuan. Dalam bahasa sederhananya, Patriarki biasanya muncul karena kepercayaan bahwa laki-laki lebih kuat daripada perempuan sehingga posisinya menjadi lebih tinggi daripada perempuan (dan gender jenis lainnya).

Gimana sih awal mulanya Patriarki itu ada?

Masih inget ga kisah tentang gaya hidup manusia purba yang berburu dan meramu? Karena cara hidup yang harus berburu hewan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan meramu bahan pangan lain untuk diolah, ada pembagian peran tentang
laki-laki yang berburu ke luar rumah dan perempuan yang meramu serta mengolah bahan makanan di dalam rumah.
Perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah kemudian juga mengisi kegiatan dengan bercocok tanam.

Seiring berkembangnya zaman, kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan tidak cocok lagi dilakukan karena
kondisi alam yang berubah. Hal tersebut membuat laki-laki mengambil alih lahan produksi pertanian perempuan.
Karena keharusan untuk mempertahankan hidupnya, manusia membuat perkembangan teknologi berlangsung dengan pesat
di tengah masyarakat pertanian.

Sejak saat itu, proses produksi yang sebelumnya dikerjakan bersama-sama (komunal), akhinya dapat dikerjakan secara sendirian (individual), sehingga proses komunal dalam menghasilkan sumber penghidupan berangsur-angsur tergantikan oleh proses individual dan menjadikan hasil produksi menjadi milik individu. Dari sinilah, sistem pertanian memperkenalkan kepemilikan pribadi pada umat manusia. Hal ini yang menjadi akar dari lahirnya sistem patriarki. Seperti yang dikatakan Engels dalam Budiman (1981 :23), bahwa sistem patriarki dimulai ketika manusia mulai mengenal kepemilikan pribadi,
di mana sistem kepemilikan ini juga menandai lahirnya sistem kelas.

 

Definisi dan penjelasan lebih mendalam tentang Patriarki bisa diakses di sini: https://medium.com/@pustakamerahitam/sejarah-pengertian-bentuk-dan-struktur-ideologi-patriarki-efd0124e2128

 

Apa itu SGBV (Sexual and Gender Based Violence-Kekerasan Berbasis Gender dan Seksualitas)?

IASC / Inter-Agency Standing Committee mendefinisikan kekerasan berbasis gender sebagai ‘Terminologi payung untuk semua tindakan membahayakan yang dilakukan di luar kehendak orang tersebut yang didasarkan atas perbedaan peran laki-laki dan perempuan. Ada beberapa bentuk kekerasan berbasis gender, antara lain : (1) seksual (2) fisik; (3) praktek tradisional yang membahayakan; (4) sosial ekonomi and (5) emosional dan psikologis (dalam IPPF, 2009)

Sementara itu UNHCR memberikan definisi sebagai berikut : kekerasan langsung pada seseorang yang didasarkan atas seks atau gender. Ini termasuk tindakan yang mengakibatkan bahaya atau penderitaan fisik, mental atau seksual, ancaman untuk tindakan tersebut, paksaan dan penghapusan kemerdekaan.

Simplenya sih gini, semua tindakan kekerasan, baik fisik maupun seksual, yang dilakukan pada orang lain karena gender dan seksualitasnya, termasuk ke dalam SGBV. Misalnya, penggerebekan waria disertai kekerasan fisik di Aceh yang sedang bekerja
di salon hanya karena mereka waria padahal mereka sama sekali tidak punya masalah terkait perijinan pekerjaan atau hal lainnya. Contoh lebih sederhananya misalnya saat ada perempuan mengalami pelecehan seksual atau fisik karena tampilan fisiknya yang maskulin, atau sebaliknya, saat ada laki-laki yang berpenampilan feminin.

Apa hubungannya?

Patriarki yang menganggap laki-laki sebagai gender yang paling dominan dibanding perempuan (dan gender jenis lainnya) menjadikan adanya keyakinan bahwa “wajar” untuk merendahkan atau memperlakukan orang dengan gender selain
laki-laki dengan buruk karena posisinya lebih rendah. Hal ini membuat banyak laki-laki merasa “berhak” melakukan kekerasan pada perempuan dan gender lainnya. Perwujudan Patriarki yang terjadi dalam ranah privat di relasi personalnya hadir dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ataupun kekerasan dalam pacaran (KDP). Sementara yang terjadi di ranah publik bisa dalam bentuk pelecehan seksual di tempat dan kendaraan umum, tempat kerja maupun institusi (pendidikan dan agama), atau bisa juga hadir di dunia maya dalam bentuk mengirim gambar porno, chat mesum atau revenge porn alias menyebarluaskan video aktivitas seksual orang lain.

Apa bahayanya?

Pemahaman Patriarki kemudian menjadi dasar pikiran atas “berhak”nya laki-laki melakukan kekerasan pada perempuan dan gender lainnya karena mereka “pantas” diperlakukan begitu. Hal ini melahirkan bermacam bentuk kekerasan, baik secara fisik, ekonomi, psikis, praktek budaya maupun kekerasan seksual. Berikut ini penjelasan dari tiap jenis kekerasannya:

Kekerasan seksual.

Kita bisa melihat banyak kejadian yang masuk dalam jenis kekerasan seksual. Lihat contoh di bawah ini :

  1. Perkosaan
  2. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual
  3. Pelecehan seksual
  4. Penyiksaan seksual
  5. Eksploitasi seksual
  6. Perbudakan seksual
  7. Intimidasi/serangan bernuansa seksual, termasuk ancaman/percobaan perkosaan
  8. Kontrol seksual, termasuk pemaksaan busana dan kriminalisasi perempuan lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama
  9. Pemaksaan aborsi
  10. Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual
  11. Pemaksaan perkawinan, termasuk kawin paksa dan kawin gantung
  12. Prostitusi paksa
  13. Pemaksaan kehamilan
  14. Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan

 

Catatan: walaupun tidak meninggalkan bekas fisik, kekerasan seksual memiliki dampak yang lebih dalam dan berefek jangka panjang pada korban, dibandingkan kekerasan fisik serta memerlukan pengobatan dan pemulihan psikologis lebih lanjut.

Kekerasan fisik.

Kekerasan jenis ini yang paling mudah diketahui karena menimbulkan bekas fisik. Hal yang membedakan kekerasan fisik berbasis gender dan seksualitas dengan kekerasan fisik lainnya adalah adanya motif melakukan kekerasan karena gender atau seksualitas korban. Contohnya adalah seperti kasus penggerebekan waria di Aceh yang disebutkan tadi. Penggerebekan itu terjadi karena mereka adalah waria, bukan karena pekerjaan atau hal lainnya.

Kekerasan sosial dan ekonomi.

Dalam kategori ini, kekerasan berakibat pada penelantaran ekonomi dan pemiskinan korban. Contoh yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah penelantaran ekonomi yang dilakukan oleh suami terhadap istri atau anak. Tapi tidak hanya itu. Kita juga bisa melihat dalam relasi di luar rumah tangga. Misalnya, tindakan seorang pacar terhadap pasangannya yang dipaksan untuk terus mengeluarkan uang untuk menghidupi disertai ancaman.

Kekerasan psikis atau mental. 

Jika kekerasan fisik paling mudah dideteksi, maka kekerasan psikis paling mudah dilihat tapi susah dideteksi efeknya. Biasanya hadir dalam bentuk ancaman, intimidasi atau kata-kata yang merendahkan dan dilakukan berkali-kali pada korban. Contoh simpelnya adalah saat siswa di sekolah melakukan bullying dengan mengucapkan kata-kata merendahkan pada siswa lain yang kepribadiannya feminin.

Praktek sosial/budaya yang membahayakan.

Dalam penjelasan dikatakan bahwa praktek ini menyangkut praktek seperti sunat perempuan (female genital mutilation), perkawinan paksa (forced or arranged marriage) dan perkawinan di usia dini (early marriage). Budaya tersebut lahir dengan pandangan bahwa karena perempuan posisinya lebih rendah dari laki-laki, maka keadaannya menjadi tidak prioritas, sehingga perlu diatur untuk kepentingan pihak lain seperti keluarganya. Anak perempuan biasanya mengalami sunat perempuan karena anggapan bahwa itu akan mengendalikan dorongan seksualnya supaya lebih terkendali, sementara perkawinan paksa maupun nikah dini terjadi karena pandangan bahwa anak perempuan pantas dikorbankan pendidikannya untuk dinikahkan saja supaya bisa membantu kondisi ekonomi keluarga dan perempuan
tidak perlu berpendidikan.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pada dasarnya, prinsip Patriarki menganut ketimpangan relasi alias tidak memandang semua orang memiliki posisi yang sama karena mempercayai dominasi laki-laki. Di sisi lain, ada juga pemahaman Matriarki yang memandang perempuan posisinya lebih tinggi daripada laki-laki dan gender jenis lainnya. Kedua prinsip ini menjadi akar atas adanya pembenaran tindakan intimidasi atau merendahkan pihak lain karena tidak memandang semua orang memiliki posisi setara.

Hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah: meyakini bahwa semua orang adalah setara. Lalu, yakini juga bahwa tidak ada manusia yang pantas mendapatkan kekerasan, sebagaimana tidak ada seorangpun yang berhak melakukan kekerasan pada orang lain, atas alasan apapun. Tuhan aja memandang semua manusia sama di depannya, kenapa kita bisa-bisanya memandang ada orang yang lebih tinggi posisi gendernya dibanding yang lain? Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Sesederhana itu. Hal lain yang bisa kita lakukan juga adalah berbagi tulisan ini pada kenalan kita, khususnya mereka yang sedang atau pernah mengalami kekerasan dalam hidupnya, untuk meyakini bahwa kekerasan itu bukanlah hal yang wajar dimaklumi. Karena pada akhirnya, semua orang berhak hidup dalam rasa damai dan bahagia.

Oleh: NQ

 

 

 

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.