Gengs, hari gini, siapa yang sering mager dan pesan makanan lucu-lucu lewat aplikasi ojek online? Apa sih yang biasanya dibeli untuk menemani kesuntukan saat males ngapa-ngapain atau pas lagi ngejar deadline kerjaan? Entah yang super manis atau yang super asin. Kelar ngemil, eh ngantuk dan bobo cantik. Olahraga, jarang-jarang. Paling kalo pas sekalian jalan ama gebetan. Wadidaw, apa kabar nih gaya hidup kita?

Kali ini kita akan bahas tentang pola makan dan kesehatan. Biar kita bisa menjadi anak muda yang sehatnya paripurna di tahun ini. Kuy lah langsung aja kita bahas, cus!

Doyan jajan, malas jalan

Seperti yang udah bisa kita duga, anak muda Indonesia, apalagi yang tinggal di perkotaan, cenderung suka makan, malas jalan tapi getol banget jajan makanan. Pada November 2015 Nielsen menerbitkan hasil riset yang melibatkan 30.000 partisipan dari 60 negara. Di dalamnya mencangkup perbandingan gaya hidup antara Silent Generation (di atas 65 tahun), Generasi Baby Boomers (usia 50-64), Generasi X (35-49), Generasi Milenial, dan Generasi Z.

Untuk urusan mengisi perut, Generasi Milenial dan Generasi Z adalah dua golongan yang paling sering makan di luar rumah. Persentase responden Silent Generation yang makan di luar setidaknya sekali dalam seminggu (26 persen), Baby Boomers 29 persen, dan Generasi X 44 persen. Persentase Generasi Milenial dan Generasi Z mencapai 58 persen dan 46 persen.

Riset Tirto, yang melibatkan 1.201 responden di Bandung, Denpasar, Jakarta, Surabaya, Tangerang, dan Yogyakarta, menunjukkan mayoritas Generasi Z memang masih sering makan di rumah tapi ada alasan-alasan khusus mengapa sebagian lain memilih hal tersebut. Temuan ini sekaligus menunjukkan pola hidup Generasi Z: mereka yang tinggal bersama orangtua dan tinggal sendiri (indekos, mengontrak, atau hal lain). Sementara alasan responden memilih makan di luar rumah karena tak ada yang menyiapkan makanan (24,1 persen), lebih banyak aktivitas di luar tempat tinggal (20,6 persen), atau karena tinggal sendiri (19,8 persen).

Sisanya responden menjawab karena tak punya kemampuan memasak, rasa makanan di luar yang lebih enak, pilihan menu lebih variatif, mencari suasana tempat makan, atau karena lebih praktis. Restoran cepat saji jadi salah satu tujuan mereka. Survei Tirto menunjukkan jika Kentucky Fried Chicken (KFC) jadi restoran pilihan paling disukai generasi Z. Bila dicermati, rata-rata restoran cepat saji yang dipilih Generasi Z Indonesia adalah yang menyajikan menu nasi. Nasi masih menjadi makanan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Konsumsi beras atau nasi di Indonesia termasuk tertinggi di Asia Pasifik, menempati posisi ketiga dengan konsumsi 163 kg per kapita per tahun.

Anak muda: apa kabar pola makannya?

Doyannya anak muda jajan di luar rumah cenderung bikin anak muda punya pola makan yang ga sehat karena banyak nyemil jajanan yang bertema manis atau asin. Tapi, apa bener begitu? Yuk kita cek beberapa kebiasaan makan berikut ini untuk ngecek pola makan kita.

1.Kunyah makanan secara perlahan.

Mengunyah makanan secara perlahan agar mengasup rendah kalori. Sebab, orang yang mengunyah perlahan cenderung tidak mengalami obesitas atau tak punya masalah metabolisme, penyakit jantung, diabetes dan risiko stroke. Menurut penelitian terbaru yang dipresentasikan di American Scientific Sessions 2017, mengunyah lebih lambat mungkin merupakan perubahan gaya hidup yang penting untuk membantu mencegah sindrom metabolik. Trend makanan fast food dan gaya hidup serba cepat cenderung membuat kita juga jadi kebawa makan cepat. Padahal, makan dengan cepat justru akan membuat kita ga merasa kenyang dan malah makan secara berlebihan. Waspadalah terhadap kalori, terutama saat kita sedang santai. Orang Amerika sendiri tercatat hampir 6 persen lebih banyak mengasup kalori pada hari Sabtu daripada hari lain dalam sepekan, dan 3 persen lebih banyak pada hari Jumat, menurut analisis penghitung jutaan kalori dari aplikasi penurunan berat badan. Kalo kamu sendiri, biasanya ngemil hari apa?

2. Kurangi makan camilan.

Industri makanan camilan di Amerika Serikat fantastis, nilainya 33 milliar dollar AS, dengan rata-rata setiap rumah menghabiskan 133 dollar AS setiap tahun untuk camilan di sela makan makanan utama, menurut data yang dirilis Nielsen. Hampir seperempat (24 persen) orang makan camilan di sela-sela makan utama dibanding lima tahun lalu, atau 21 persen jika menurut riset lain dari NPD Group. Seberapa bahaya sih makanan camilan itu? Pada dasarnya hal yang membuat camilan menjadi bahaya adalah kandungan pewarna, rasa buatan dan gula. Coba deh iseng cek bahan makanan camilan yang kamu makan, berapa banyak kandungan pewarna, rasa buatan dan gulanya?

3.Hindari terlalu sering order makanan di luar.

Memasak makanan sendiri di rumah jauh lebih baik untuk kesehatan, dibanding harus makan di restoran atau order makanan via online. Jumlah layanan delivery atau pesanan makanan lewat telepon dan internet melonjak 18 persen tahun lalu menjadi 1,9 miliar, menurut temuan NPD. Makan malam adalah makanan yang paling sering dipesan secara online, dan keluarga adalah pengguna digital terberat pemesanan online. Di Amerika sendiri, orang-orang yang berusia di bawah 35 tahun dan mereka yang memiliki pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi adalah pengguna pemesanan online di atas rata-rata dengan aplikasi seperti Seamless dan Grubhub. Di Indonesia sendiri juga terdapat beberapa aplikasi yang terhubung dengan ojek online yang dikhususkan untuk pemesanan makanan. Dengan situasi tersebut, orang-orang menjadi kurang memiliki kontrol atas apa yang masuk ke makanan mereka saat mereka memesan—yang turut serta dapat mengurangi kesehatan mereka. Orang Amerika Serikat sendiri mendapatkan sebagian besar sodium harian mereka—lebih dari 75 persen—dari makanan olahan dan makanan restoran, menurut Centers for Disease Control and Prevention. Orang-orang makan rata-rata 200 kalori lebih banyak per makanan saat mereka makan makanan dari restoran, menurut sebuah penelitian tahun 2015.

4.Kurangi konsumsi garam

Menurut riset CDC, kelebihan sodium bisa meningkatkan tekanan darah dan risiko terkena penyakit jantung dan stroke. Bersamaan dengan itu, penyakit jantung dan stroke membunuh lebih banyak orang Amerika Serikat setiap tahun daripada penyebab lainnya dimana 71 persen sodium harian mereka didapat dari makanan olahan dan restoran. Memasak untuk diri sendiri adalah pilihan teraman dan paling sehat. Setiap orang seharusnya mengkonsumsi kurang dari 2.300 miligram sodium setiap hari.

5.Hindari minum soda.

Walaupun sekarang sudah banyak minuman soda yang berlabel less sugar, tapi setiap minuman soda masih saja mengandung efek samping kesehatan. Menurut sebuah tinjauan ulang tahun 2017 tentang penelitian yang diterbitkan di Canadian Medical Association Journal menyatakan bahwa minuman ringan bersoda bebas gula bisa mengkondisikan tubuh untuk membutuhkan kalori. Bukan cuma itu, minuman yang dimaniskan secara artifisial terkait dengan peningkatan risiko stroke dan demensia, menurut jurnal Stroke American Heart Association.

6.Hati-hati dengan minuman alkohol

Mengkonsumsi alkohol, sekalipun rendah alkohol, tetap saja terkait dengan beberapa risiko termasuk kanker payudara, kolon, kerongkongan, serta kepala dan leher, demikian menurut penelitian terbaru yang dikaji oleh American Society of Clinical Oncology. Terlebih untuk ODHIV (Orang Dengan HIV), konsumsi alkohol akan mengganggu kerja ARV dalam menekan jumlah virus dalam tubuh.

Nah gimana? Yang mana dari jenis pola makan di atas yang udah kamu lakuin dan yang mana yang masih susah payah diperjuangkan demi kesehatan yang paripurna? Inget, orang yang kaya raya sekalipun ga bakal ada gunanya kalo kita sakit. Boleh aja jajan pas lagi mager berat, tapi coba dicek dulu, apakah makanan yang mau kamu beli itu beneran sehat atau Cuma indah dipandang tapi ga berfaedah buat kesehatan?

 

Oleh: NQ

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.